#PemikiranMardani: Membangun Kelas Menengah Kader (Seri 02/23)

Assalamu’alaikum.Wr.Wb .
Rekan-rekan berikut seri pemikiran saya yg sudah dibukukan dengan judul Menangkap Masa Depan Politik Indonesia dibuat dalam 23 seri. Semoga bermanfaat.

#PemikiranMardani
Membangun Kelas Menengah Kader (Seri 02/23)

Jika melihat sirah Nabi Muhammad SAW, kita akan tahu bahwa di antara pengikut awal beliau adalah sahabat berkategori kuat secara ekonomi. Sebut saja di antaranya Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan Umar bin Khattab. Bahkan Nabi SAW bersama sang istri Khadijah ra. termasuk dalam kelompok ekonomi kuat sebagai pedagang sukses. Tidak heran jika dalam Al- Qur’an ada banyak ayat yang memerintahkan infaq, zakat, dan sedekah. Hanya dua ayat saja yang memuat tentang fuqara dan masakin.

Tidak hanya itu, keempat Imam Besar kita; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali, semuanya terkategori sebagai pedagang besar yang memiliki financial freedom, sehingga sangat tegas dalam memberikan fatwa. Maka nampak jelas bahwa hubungan dakwah dengan ekonomi sejak awal sangat simbiosis mutualisme.
Pada awalnya dakwah memerlukan back up kekuatan ekonomi kadernya. Tapi pada kondisi ketika dakwah sudah meluas dan mendapat dukungan publik, justru ekonomi kader dan jamaah akan sangat terbantu.

Pada tahap inilah kegagalan menyeimbangkan antara prestasi rekrutmen dakwah dengan penyiapan kelas menengah kader akan membawa dampak pada tidak kokohnya perkembangan dakwah.
Pada suatu kondisi, dakwah harus memasuki tahap obyektifikasi nilai-nilainya menjadi prestasi amal kebajikan dengan semua instrumennya. Publik harus merasakan keindahan nilai dakwah melalui layanan-layanannya baik barang atau jasa yang diakui publik.

Dalam konteks perjuangan dakwah kita di Indonesia, ketika medan politik menjadi salah satu medan utamanya, biaya politik cukup tinggi, oleh karena itu, terbentuknya kelas menengah kader akan menjadi tulang punggung utama. Tanpa dukungan kelas menengah, ada kecenderungan yang mesti diperhatikan; merebaknya ekonomi rente, ekonomi orang tengah/makelar hingga dijadikannya kader atau institusi sebagai kendaraan bagi mereka yang memiliki kekayaan. Jika ini terjadi, perkembangan dakwah bisa terganggu.

Lalu bagaimana kelas menengah kader dibangun? Yang pertama perlu didefinisikan apa yang dimaksud dengan kelas menengah. Dalam kategori ekonomis, kelas menengah didefinisikan mereka yang berpenghasilan 2 – 20 dolar sehari. Biasanya dengan penguatan ekonomi, kelas menengah juga menikmati posisi sebagai pressure group di masyarakat. Lebih mandiri dan lebih vokal. Latar belakangnya bisa mereka yang dengan kekuatan intelektualnya menjadi birokrat, kelompok middle management di perusahaan hingga mereka yang mempraktekkan wirausaha.

Dalam konteks inilah hadits Nabi bahwa 9 dari 10 pintu rizki itu melalui bisnis. Imam Hasan Al Bana bahkan mengingatkan kita dengan kata-katanya, “Berdaganglah kalian karena Nabimu pun seorang pedagang.” Seorang Bill Gates, pada 2004 memiliki kekayaan 56 bilyun US dolar mendekati angka APBN Indonesia pada tahun itu 600 trilyun rupiah. Seorang George Sorros dapat memporak-porandakan perekonomian negara-negara ASEAN ditambah Korea pada tahun 1997 lalu.

Tidak ada langkah instan dalam membangun bisnis. Jika melihat biografi para pahlawan ekonomi yang berjuang melalui jalur bisnis, biasanya mereka memiliki karakter diri yang amat mirip dengan pejuang dakwah. Di antaranya:
Pertama, memiliki etos kerja yang tahan banting. Seperti juga dai yang tak pernah menyerah dalam membina umat, seorang enterpreneur selalu mampu bangkit dari berbagai krisis atau tekanan yang datang. Perhatikanlah kisah Liem Shio Liong, keluarga Suryajaya, keluarga Riady hingga keluarga Haji Kalla atau keluarga Bakrie.

Kedua, selalu inovatif dalam melihat peluang bisnis. Seorang dai akan sukses jika mampu menampilkan dakwah yang berkesan, relevan dan diperlukan, demikian juga usahawan. Kisah pak Utomo melahirkan minuman kemasan Aqua atau group Ciputra yang mengubah kawasan Bintaro jadi The Professional City bukti betapa pasar bukan hanya dicari tapi bisa diciptakan.

Terakhir, usahawan selalu tahu rumus: makin dermawan makin banyak untung. Google adalah perusahaan paling cepat berkembang di dunia. Rahasianya satu: dermawan memberikan layanan search engine google dan layanan email gratis gmail dengan kapasitas yang terus meningkat. Dai pun demikian, tingkat keberkesanannya ditentukan tingkat keikhlasan dan kedermawanannya.

Membangun kekuatan dakwah tanpa dibarengi kekuatan ekonomi pasti pincang. Karena itu, wajib hukumnya bagi gerakan dakwah untuk segera mewujudkan kelas menengah kader yang menjadi tiang bagi kekuatan dakwah itu sendiri. Wallahu a’lam.

(Dikutip dari Buku Menangkap Masa Depan Politik Indonesia Halaman 11-14 ditulis pada Juni 2013 )

Monggo… SHARE, REPOST di semua medsos dan MENTION kawan-kawan terdekatšŸ™šŸ˜‡
Follow YouTube/Facebook/Instagram/ twitter:
Mardani Ali Sera
Website:
http://MardaniAliSera.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s