#PemikiranMardani: Jati Diri PKS (Seri 2.1./23)

Assalamu’alaikum.Wr.Wb .
Rekan-rekan berikut seri pemikiran saya yang sudah dibukukan dengan judul Menangkap Masa Depan Politik Indonesia. Dibuat dalam 23 seri. Semoga bermanfaat.

#PemikiranMardani: Jati Diri PKS

(Seri 2.1./23)

Tanyakan pada kader, adakah yang berubah dengan PKS saat ini? Tanyakan pada publik adakah yang berubah dari PKS saat ini? Dan yang paling utama, tanyakan pada diri sendiri, adakah yang berubah pada PKS saat ini?

Pertanyaan introspektif ini, menurut saya penting. Bukan hanya melaksanakan nasehat Umar Bin Khattab ra. tentang hasibuu anfusakum qobla antuhasabuu… Hisablah diri kalian sebelum dihisab! Tapi lebih dari itu dikaitkan dengan kondisi PKS saat ini. Rentetan hasil survei yang dibuat banyak lembaga menunjukkan perolehan suara yang jauh lebih rendah dibanding prestasi 2009. Sebagian survey bahkan memprediksi PKS tidak lolos elektoral thershold 3.5%. Lalu ada hubungankah antara hasil survei yang rendah dengan ‘perasaan’ ada yang berubah dari PKS sekarang?

Bagi saya pribadi, hasil survei bukanlah bagian dari rukun iman yang mesti diyakini kebenarannya. Tapi ia juga bukan sekumpulan gosip yang dapat kita abaikan begitu saja. Metodologi survei telah berkembang sedemikian rapinya sehingg kian hari akurasi dan margin error-nya kian tepat. Jadi untuk saya hasil survei justru bisa digunakan sebagai alat untuk ‘meraba’ realita. Bahkan saat saya bertemu Prof. Tarmizi, seorang ahli statistik yang tekun, beliau mengatakan pada tingkat tertentu, tanpa surveipun trend dan fenomena umum dapat dibaca dan dirasakan. Termasuk fakta bahwa sebagian kader merasakan ada yang berubah dengan PKS sekarang ini.

Saya pribadi tidak pernah terlalu memusingkan tentang elektabilitas partai. Termasuk jujurnya, tidak memusingkan tentang kasus yang mengemuka terkait suap impor daging sapi. Karena itu semua adalah efek karakter dan kerja kita baik yang dilalukan secara privat ataupun publik. Dalam bahasa sederhana, rendahnya elektabilitas kita serta tuduhan kasus impor sapikita tetap berprasangka baik dan biarkan pengadilan yang memutuskan kasusnyamerupakan cermin dari dekat tidaknya kita denga jati diri Partai ini. Dari dulu kita diingatkan bahwa kita adalah prajurit pemikiran (fikrah) dan aqidah. Bahwa kita adalah da’i, bahwa kita adalah pelayan ummat dan bahwa kita adalah orang yang shiddiq, yang benar, jujur, yang lurus; yang kemudian dalam kampanye 2004 kita formulasikan dengan slogan BERSIH dan PEDULI. Bersih aqidahnya, bersih akhlaqnya, bersih hartanya dan bersih pergaulannya. Peduli bukan hanya pada umat Islam, tapi pada semua warga dengan beragam suku, agama dan ras yang ada. Bahkan peduli pada semua makhluk.

Jadi premis saya sederhana, jati diri partai ini adalah partai berakhlaq, partai beramal, partai bersih, karena memang kita ingin hidup dengan memberi kebaikan, bukan sebaliknya. Kian kuat jati diri partai ini, yang tercermin dari kadernya, dalam kerja strukturnya, dalam interaksi yang dibingkai dengan akhlaq; baik di DPR, di Gubernuran, di Kotamadya dan Kabupaten. Dalam bahasa yang lugas, jati diri partai ini mengajak pribadi kita untuk membenci perilaku korupsi, perilaku zalim, perilaku kemubaziran hingga perilaku munafik yang menjadi landasan kokohnya rezim-rezim tirani, dimanapun.

Jadi berubahkah PKS kini? Saya ingin mengajak kita semua bercermin dari Guru Kita, Syekh Kita, Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah yang telah dan selalu membimbing kita dengan nasehat dan tadzkirahnya. Ini sebagiannya:

“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu kau bertanggung jawab, itulah repotnya. Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu disini, mendirikan imperium kebenaran”

“Apa kabar hatimu? Masihkah ia seperti embun? Merunduk tawadhu dipucuk- pucuk daun? Masihkah ia seperti karang? Berdiri tegar menghadapi gelombang ujian. Apa kabar imanmu? Masihkah ia seperti bintang? Terang benderang menerangi kehidupan. Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjagamu, saudaraku”.

“Seonggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua menghindar. Biarlah saya yang menanggungnya. Semua atau sebagiannya.”

“Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, dimana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan. Keep istiqomah!”

“Jika ku dapat menarik Pelangi, Mentari dan Bintang. Maka ku akan membentuk Namamu disitu, lalu akan ku kembalikan lagi ia ke Langit agar semua orang tahu, betapa bahagianya aku mempunyai saudara seperti dirimu. Selamat beraktivitas”.

“Jangan takut untuk mengambil langkah besar hari ini, Jika memang dibutuhkan!! Jurang tak bisa disebrangi hanya dengan 2, 3 lompatan kecil!! Nahnu Duat Fii Kulli Zaman.”

“Politik telah membuahkan konsekuensi yang maha dahsyat dalam peradaban manusia. Dalam abad ke-20 saja politik telah membunuh 200 juta jiwa di seluruh dunia. Keep ur soul pure.”

“Beban Dakwah hanya dapat diberikan oleh mereka yang memahami dan memberikan apa saja yang kelak di tuntutnya ; Waktu, Kesehatan, Harta, Bahkan Darah. Mereka Bergadang saat semua tertidur lelap. Mereka gelisah saat yang lain lengah. Seakan-akan lisannya yang suci Berkata , ‘Tidak ada yang kuharap dari kalian. Aku hanya mengharap pahala Allah”.

“Ana harap, seperti tulisan antum, militansi dakwah tetap dipegang erat, bagaimana kita sabar, tsabat dengan keadaan yang ada, karena ini ujian, kondisi seperti apapun, saat ikhlas dalam dakwah senantiasa kita pegang, tak akan pernah melemahkan dan menggoyahkan diri kita untuk terus bersamanya, afwan atas segala kata yang kurang berkenan”.

“Insya Allah, masa depan yang gemilang itu, kejayaan yang pernah hilang ditangan kita, akan dapat kita kembalikan lagi. Dan saya berharap Indonesia akan menjadi pemimpin kebangkitan ini. (Ucapan Ustadz Rahmat Abdullah mengutip harapan DR. Yusuf Al Qaradhawi).”

“Bukannya seorang dai mereka yang mengeluh tentang sulitnya merubah kondisi masyarakat. Ia bukannya dokter, ia hanya orang yang berpakaian dokter tapi jijik melihat luka besar yang harus diobatinya”.

Jadi, saudaraku, berubahkah PKS kini? Nasehat Ustadz Rahmat diatas dapat kita jadikan timbangan. Tidak perlu memyalahkan orang lain. Tidak perlu kagum dengan orang lain. Cukup pelajari dan hargai semua yang kita miliki dan pelajari dengan rendah hati kebaikan dan keunggulan orang lain. Kemudian ibda binafsika. Mulai dengan diri kita sendiri. Kita yang bertanggung jawab adakah PKS berubah, membaik atau memburuk. Kita yang akan dimintai pertangungjawaban. Publik seringnya merupakan juri/hakim yang jujur. Cukuplah peringatan Allah Ta’ala dalam surat At-Taubah ayat 105, ”Bekerjalah kalian, sesungguhnya Allah, Rasul dan orang beriman melihat amal kalian.”

(Dikutip dari Buku Menangkap Masa Depan Politik Indonesia Halaman 29-34 ditulis pada November 2013 )

Monggo… SHARE, REPOST di semua medsos dan MENTION kawan-kawan terdekat🙏😇
Follow YouTube/Facebook/Instagram/ twitter:
Mardani Ali Sera
Website:
http://MardaniAliSera.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s