#PemikiranMardani (Seri 4): Leadership Factor Pada Pilpres 2014

Assalamu’alaikum.Wr.Wb .
Rekan-rekan berikut seri pemikiran saya yg sudah dibukukan dengan judul Menangkap Masa Depan Politik Indonesia dibuat dalam 23 seri semoga bermanfaat.

#PemikiranMardani (Seri 4)

Leadership Factor Pada Pilpres 2014

John C. Maxwell dalam bukunya, The Leadership Gold (2008), menjelaskan bahwa ‘almost everything rises and falls on leadership.’ Hampir segalanya jatuh dan bangun karena kemimpinan.

Di awal kemerdekaan hingga tahun 60-an kepemimpinan Sukarno terlepas dari keruwetan politik dan ekonomi dalam negeri, menginspirasi banyak negara untuk merdeka dan mewujudkan martabat bangsa Indonesia yang mampu membangun Gelanggang Olahraga Senayan yang terbesar dikawasan Asia, menyelenggarakan Asian Games tahun 1964 hingga terbangunnya Gedung Kesenian dan museum-museum yang berkualitas.

Pasca reformasi, khususnya masa kemimpinan Bpk. SBY, banyak pihak menyayangkan hilangnya peluang emas berupa demograpic benefit ketika tidak semua negara memiliki keuntungan jumlah dan usia produktif penduduk terbesar di dunia. Kebijakan pendidikan yang tambal sulam, kebijakan ekonomi yang tidak ekspansif hingga ketergantungan pada asing yang tetap tinggi merupakan sedikit fakta yang tampak nyata.

Lalu kepemimpinan seperti apakah yang dibutuhkan Indonesia, khususnya menjelang Pilpres 2014? Dan apakah gerakan dakwah sudah menyiapkan diri memgambil momentum perubahan?

Pentingnya menyiapkan diri menghadapi Pilpres 2014 bagi gerakan dakwah sangat menentukan orientasi bangsa ini ke depan. Terpilihnya Capres seperti Jokowi, Prabowo, atau Sri Mulyani sangat memungkinkan membuat Indonesia menjadi negara yang maju, kuat secara ekonomi, komitmen pada demokrasi, tetapi minus visi keumatan.

Maksud visi keumatan adalah wujudnya kebijakan yang pro pada penguatan ekonomi umat (ekonomi syariah, koperasi syariah, UKM umat hingga pengelolaan zakat yang lebih optimal dengan peran negara), institusi pendidikan umat (madrasah, pesantren, dan turunannya) ataupun ormas-ormas Islam yang perlu diperkuat basis institusi, manajerial hingga SDMnya. Peluang terjadinya survival of the fittest, di mana kekuatan umat yang masih relatif lemah dan tertinggal akibat diskriminasi kebijakan puluhan tahun untuk bertarung secara pasar bebas dengan institusi milik kelompok nasionalis, liberal, ataupun kawan-kawan etnis keturunan, sangat besar terjadi. Kita tahu penguasaan ekonomi, lembaga pendidikan, media dan LSM yang non keumatan jauh lebih established dibanding milik umat.

Tanpa menutup peluang bahwa capres-capres dari parpol atau komunitas nasionalis di atas yang bisa saja diajak untuk juga memihak agenda keumatan, peluang besarnya jika gerakan Islam mau mewujudkan capres yang dari awal memang lahir dari gerakan dakwah dan gerakan keumatan. Baik dari parpol Islam ataupun ormas Islam yang sejak awal akrab dan memperjuangkan agenda umat.

Sekali lagi, ini tidak melulu mengharuskan kita melupakan upaya mendekati dan menawarkan agenda keumatan pada siapapun capres yang kemungkinan besar akan membawa Indonesia maju pada pilpres 2014 ini. Karena bisa jadi capres dari basis keumatan memiliki peluang juga untuk terjerembab pada kubangan korupsi dan tidak mewujudkan good coorporate government ataupun good governance. Karena syarat dan komitmen untuk memberantas korupsi, berperilaku sederhana, menjadi contoh teladan dan memiliki integritas untuk memperjuangkan transparansi serta akuntabiltas publik adalah suatu sarat dasar dari semua capres.

Artinya jika semua sarat dasar sudah terpenuhi maka pilihan berukutnya adalah capres yang dekat dan memiliki agenda keumatan. Jika diminta memilih antara capres yang dekat dengan umat tapi memiliki masalah dengan sarat dasar, dan capres dari kalangan non-umat tapi memiliki sarat dasar, saya memilih capres yang memenuhi sarat dasar lebih utama.

Lalu siapakah capres yang lahir dari rahim gerakan keumatan dan yang memiliki komitmen memajukan umat?

Ada dua lapis menurut saya; ada pak Hidayat Nur Wahid, Yusril Ihza Mahendra, ataupun yang terbaru Habieb Riziq. Lapis kedua adalah mereka yang memiliki kedekatan dengan umat, ada Pak Mahfud MD, Pak Hatta Rajasa, Pak Muhaimin Iskandar dan bisa juga dimasukkan Pak Dahlan Iskan.

Pasti banyak kontroversi dengan dimasukkannya nama dan kategorisasinya. Tapi secara umum memang fokusnya adalah agenda keumatan. Makin cepat umat memiliki kesamaan pandangan dan paradigma, makin baik hasil bagi tersosilisasikannya agenda keumatan pada para capres.

Karena, salah satu problem terbesarnya adalah memasivikasi pesan. Antara pesan keumatan yang benar dan strategis, dengan proses masifikasinya adalah dua hal berbeda. Dengan media mainstream baik TV, cetak, online l, dan radio yang mayoritas bukan milik umat, kita punya tingkat kesulitan untuk menyatukan dan memasifikasi sikap dan suara umat agar optimal dalam Pilpres 2014.

Lalu apa langkah yang harus kita lakukan?
Bagaimanapun adanya kesatuan langkah umat baik di tingkat elit maupun di tingkat grassroot sangat perlu segera dilakukan. Di tingkat elit, alangkah baiknya jika semua calon pimpinan dari kalangan umat dapat duduk bersama, berdiskusi dalam kerangka kepentingan umat serta menyatukan pendapat untuk menyatukan sikap dan suara umat menuju satu gerak. Karena itu, dalam beberapa kesempatan saya mengangkat isu koalisi keumatan dalam Pilpres 2014.

Poros umat perlu segera menyatukan shaf, khusunya di kalangan pimpinan umat. Sesudah itu tugas kita bersama mensosialisasikannya pada seluruh shaf dan barisan umat melalui saluran-saluran yang kita miliki. Sehingga menjelang 2014 akan tercapai sikap yang satu; solid dan kokoh dari suara dan sikap umat sehingga daya tawar dan daya jual kita meningkat.

Siapa yang akan memulai?
Saya berpikir semua harus memiliki inisiatif untuk segera menggulirkan ide koalisi keumatan menghadapi Pilpres 2014. Parpol Islam dan Parpol berbasis umat Islam bisa saling berkompetisi dalam pileg tetapi harus bekerja sama dalam pilpres 2014, karena nilai strategis Pilpres sangat menentukan masa depan umat.

Dalam sistem Presidensil kita, posisi presiden sangat kuat. Bahkan dengan tidak adanya MPR yang memiliki hak membuat GBHN, maka kemana dan seperti apa Indonesia ke depan sangat bergantung pada sosok presidennya. Dengan kepemimpinan yang kuat, presiden dapat menggalang kekuatan publik bahkan juga DPR, untuk mendukung ide dan gagasan masa depan Indonesia yang ramah dan mendukung kekuatan umat.

Kita merindukan sosok presiden yang akrab dengan terminologi umat, yang tidak nyaman dengan konser-konser musik asing apalagi cadas beserta budaya barat yang merusak lainnya. Presiden yang mencintai rakyatnya karena takut pada Allah SWT. Presiden yang mau memajukan masjid, pesantren, UKM, dan ekonomi syariah serta budaya Islami.

Kita masih punya waktu
Ayo kita desak para pimpinan umat untuk bersatu demi agenda besar keumatan dalam kerangka keindonesiaan yang kuat. Wallhu a’lam bishawab.

(Dikutif dari Buku Menangkap Masa Depan Politik Indonesia l, Halaman 19 -24, ditulis pada September 2013 )

Monggo.. SHARE, REPOST di semua medsos dan MENTION kawan-kawan terdekatšŸ™šŸ˜‡
Follow YouTube/Facebook/Instagram/ twitter:
Mardani Ali Sera
Website:
http://MardaniAliSera.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s