#Cerpen: Emas-Emas Ibu…

Oleh: Tazkiatun Nafs Az-Zahra

Mendung menggelayut sungguh kelam dan pekat di rumahku. Rumah bersejerah, penuh tawa, canda dan kadang derai air mata. Tempat kami ber-sembilan tumbuh kembang merajut hari, merenda jiwa hingga dewasa, dan berkeluarga. Ya, ibu kami tercinta, baru saja kembali ke haribaanNya. Tiada tanda yg mengemuka, beliau sehat- sehat saja. Bahkan baru saja pulang dari pasar, membeli perhiasan emas, logam mulia berkilau yang sangat suka beliau koleksi. Sepulang membeli gelang rantai indah, ibu mengeluh masuk angin. Kemudian meminta dipijat dan dibalur kayu putih. Tetiba beliau sesak nafas, semakin terasa menghimpit dadanya, Lalu… begitu cepat Allah mengambil Ibu.

Bapak, duduk bersimpuh dan tercenung di hadapan jenasah Ibu, ketegaran Bapak nampak memburai berkeping. Bahu dan dadanya menahan guncangan raga, namun beliau tak kuasa menahan pilu jiwa. Tumpah ruah jua air mata bliau dalam sedu yang menggugu. Kami semua tahu, dalam perjalanan hidup panjang yang telah dilalui bersama Ibu, Bapak amat menjadikan Ibu berlian bagi jiwanya.

Dalam suasana sarat lara ini, tetiba kakak perempuan pertamaku, hiruk pikuk bertanya, “Di mana kunci brankas, tempat simpan emas- emas Ibu?”
“Dug….”Ngilu dan meradang rasa hatiku. Belumpun dimandikan jenasah perempuan yang sangat aku cintai dan hormati ini, kakak sudah cari emas-emas ibu. Memang bukan rahasia lagi Ibu pencinta perhiasan emas dan memiliki jumlah yang sangat luar biasa.

Bapak begitu mencintai Ibu, dan dengan suka hati membelikan apa yang Ibu inginkan. Sudah tak terhitung jumlah emas Ibu, aku sendiri sebagai anak perempuan ke-sembilan( bungsu) di keluarga ini tak tahu berapa jumlah yang Ibu miliki.

Dengan nada lemah Bapak menjawab: “Di dalam laci lemari Ibu kak, kuncinya berwarna metal dengan gantungan kunci Kabah.”
Lantas kakak sulungku dengan langkah seribu menuju lemari dan mengeluarkan seluruh perhiasan emas Ibu dari brankas.
Duhai… perhiasan rupa- rupa bentuk; gelang, kalung, cincin dengan kemilau warna indah, ternyata ibu letakkan dalam peti kayu jati yang sangat artistik.

“Ibrahim…coba cari timbangan untuk menimbang emas. Kita harus hitung seluruh emas peninggalan Ibu.” Perintah kakak sulung pada kakak laki-lakiku nomor delapan.
“Astaghfirullah… Kak… masa sih, malah sibuk timbang emas Ibu?” Protes Bang Ibrahim dengan sorot mata tajam menukik.
“Ini amanah Ibu, kamu ikuti saja perintah Kakak.” Jawab kakak sulungku dengan nada perintah yang tak ingin dan tak mau dibantah.
Akhirnya didapat juga timbangan kecil akurat, dan kakak sulungku masuk ke dalam kamar Ibu untuk menimbang emas-emas itu.

Kakak kemudian muncul dari kamar Ibu sambil berucap dengan nada sarat getar, “Pak… dan adik- adik, semua emas Ibu ada sembilan ratus gram.
Kakak pun melanjutkan perkataan:
“Ibu telah lama berwasiat, jika beliau tiada, emas- emas ini harus dibagi dua. Sebagian untuk diinfaqkan untuk pembangunan pesantren atau masjid. Sebagian untuk keluarga. Dan Ibu memohon agar diinfaqan sebelum ibu di masukkan ke liang lahat. Karena Ibu ingin jika Ibu masuk ke kubur, infaq itu sudah ada untuk menemani Ibu di kegelapan dan kesempitannya.”
Ucapan kakak terbata- bata disertai isak yang tampak menyesak dada.

“Ibrahim pergilah ke Pengurus Pesantren Darul Qur’an, berikan emas ini sebagai infaq Ibu untuk pembangunan atau renovasi” Perintah Kak Zahra, sambil menyerahkan sebagian perhiasan emas Ibu dalam sebuah tas beludru biru.

Kami semua menangis terharu, ternyata untuk inilah Ibu sangat menikmati mengumpulkan perhiasan emas semasa hidup beliau.

Kami bersama Almarhum Bapak

Penguburan jenasah Ibu telah usai, namun tak demikian dengan duka kami.
Bapak kemudian meminta kami untuk berkumpul di ruang keluarga. Kami pun duduk tepekur sambil menanti apa yang akan beliau tuturkan.
“Zahra… tadi ada berapa emas Ibu? dan berapa yg sudah diinfaqkan?” Tanya Bapak dengan parau, gurat duka nampak melekat dalam raut beliau.

“Ada sembilan ratus gram Pak, dan sudah Zahra berikan tadi sebanyak empat ratus lima puluh gram. Sesuai amanat Ibu.” Jawab kak Zahra.
“Iya Nak… Ibupun pernah pernah berpesan demikan pada Bapak” Ucapan Bapak menguatkan apa yang sudah dilakukan kak Zahra.

Bapak pun bertutur kembali: “Anak- anak Bapak, mungkin kalian merasa aneh atas persetujuan Bapak pada Ibu, untuk selalu membelikan perhiasan emas yang Ibu mau… sampai terkumpul sembilan ratus gram.”
Ucapan Bapak tersendat…, bulir beningpun luruh berjejalan dari kelopak beliau.
Bapak kemudian melanjutkan ucapan beliau, “Dulu… ketika Bapak baru 2 tahun menikahi Ibumu, ketika umur Zahra 1 tahun, saat bapak menggenggam tangan Ibu, tak menemukan lagi cincin belah rotan di jari manis Ibu. Bapak terkejut dan bertanya pada Ibumu, “Bu, ada di mana cincin tanda cinta kita itu?”
Ibu kalian tersenyum sambil menjawab, “Telah aku jual pada pedagang yang mampu membeli dengan harga -sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat.”
Ya… Bapakpun mengerti Nak, pasti Ibu telah menyedekahkan cincin itu. Karena hanya Allah saja yang mampu membeli dengan harga itu.
Ketika Bapak bertanya kembali, “Mengapa rela memberikan tanda cinta yang berharga itu?” Ibu kalian mantap menjawab, “Agar cinta kita abadi di alam keabadian, maka biarkan cincin kita pergi terlebih dahulu, sebelum kita sampai ke alam kekal.”

Air mata Bapak makin tumpah ruah, mata beliau terpejam. Ada gurat-gurat pedih di sana, sepertinya Beliau tengah merangkai wajah saat Ibu masih belia,dengan rasa sahdu yang mengharu biru.
Bapak lantas membuka mata kembali seraya berucap, ” Nak… cincin nikah yang Ibu sedekahkan itu 9 gram. Jadi… jika emas Ibu berjumlah 900 gram saat ini, itu berarti Allah membalasnya di dunia dengan seratus kali lipat. Itulah yang membuat Bapak tak pernah kuasa untuk menolak permintaan Ibumu.
Allah yang selalu menggerakkan, untuk mencintai dan menyayangi ibumu. Beliau ibarat dian yang tak kunjung padam dalam lentera jiwa Bapak.

Kami semua tergugu…
“Ibu… Engkau selalu mengajarkan tentang Tuhan yang janjiNya tidak akan pernah berdusta…”

Pondok Gede, 22 Juni, 2020, ba’da Maghrib setelah rintik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s