Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-3: Hamka, Sastra & Manusia Merdeka

ILT Edisi Ke-3: Hamka, Sastra & Manusia Merdeka

Berani menegakkan keadilan walaupun mengenai diri sendiri adalah puncak dari segala kebenaran”
Buya Hamka

Sastrawan adalah produk dari masyarakat, dan sastra merupakan reaksi sastrawan terhadap keadaan hidup masyarakat di tempatnya. Hubungan sastra terhadap masyarakat sangat erat, bahkan dapat dibilang sebuah karya sastra adalah anak kandung dari masyarakat. Sebab ia ditulis sebagai refleksi atas kondisi sosial dengan banyak wajah, ia lahir dari pengalaman masyarakat yang diramu dengan bumbu fiksi. Di Indonesia, sastra telah membantu para warganya untuk menangkap kegelisahan zaman. Ragam kisahnya membentang mulai dari era kolonialisme hingga pasca kolonialisme.

Perjuangan Buya Hamka dimulai sejak aktif terlibat dalam Sarekat Islam (SI) tahun 1925. Buya Hamka melihat SI sebagai kekuatan sosial (keagamaan) Islam yang tangguh dalam menghadapi kolonialisme Belanda. Dalam salah satu buku otobiografinya yang berjudul Kenang-Kenangan Hidup (jilid 4), Buya Hamka banyak bercerita mengenai kiprahnya dalam bergerilya di hutan sekitar Medan dan Sumatera Barat serta menjadi penghubung krusial diantara kaum ulama dengan kelompok-kelompok pejuang lainnya. Di tahun 1947, bersama Rasuna Said, Buya Hamka diangkat menjadi Ketua Barisan Pertahanan Nasional. Bung Hatta pun turut mengangkat Buya Buya Hamka sebagai sekretaris Front Pertahanan Nasional

Buya Hamka juga merupakan salah satu sastrawan yang memiliki nuansa dan latar Islam yang kuat. Karya sastra dari Buya Hamka turut mempunyai pesan yang luhur berdasarkan perenungan yang mendalam. Kontribusi karya yang diberikan amat luar biasa, terutama dalam membantu menyebarkan wacana mengenai kesadaran untuk mencintai dan membela ibu pertiwi dalam rentang waktu 1930 sampai 1962 di Indonesia. Karya dari Buya Hamka mampu merepresentasikan kondisi masyarakat saat itu..

Buya Hamka mempunyai pola pikir ‘akal yang berpedoman’, di mana menurutnya seorang ulama mestinya tidak hanya sekedar mengingat dan melanjutkan interpretasi dari guru-gurunya, tetapi juga berani untuk untuk berpikir secara terbuka selama masih berpedoman pada hukum Islam. Buah pikir ini lahir dari zaman Keislaman yang penuh stagnasi, dan Buya Hamka melawan stagnasi tersebut. Kolonialisme merupakan salah satu sebab kemandegan pemikir Islam di Indonesia, banyak ulama yang dikooptasi oleh Pemerintah Kolonial sehingga mereka tidak berani bersuara kritis. Buya Hamka membebaskan dirinya dari beban moral kolonial dan memilih berpikir menggunakan akal bebas yang berpedoman hukum Islam. Ia pun berani keluar dari ‘zona nyaman’ seorang ulama dan mempelajari ilmu-ilmu lain. Ia handal dalam banyak aspek keilmuan hingga seni kesusastraan.

Beragam nilai-nilai kebangsaan dapat ditemukan dalam karya sastra yang dihasilkan Buya Hamka. Seperti kesadaran untuk merdeka dalam karyanya yang berjudul Karena Fitnah / Terusir (1938), kemudian penggunaan bahasa Indonesia sebagai perekat integrasi bangsa melalui karyanya yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938) serta aspek toleransi dan integrasi sosial budaya melalui salah satu karyanya yakni Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939).

Karya sastra Buya Hamka sekaligus menjadi permulaan media dalam upaya mengubah nilai-nilai kebangsaan menjadi kesadaran nasional. Tentu sekaligus menyadarkan banyak pihak bahwa setiap manusia merupakan aktor historis karena kesadaran nasional hanya dapat dicapai jika seseorang mampu menyadari bahwa kekayaan alam Indonesia dan pahlawan revolusi sebagai rujukan. Nilai-nilai kebangsaan sebagai bagian dari pendidikan karakter berfungsi untuk membentuk generasi berjiwa patriot.

Jika melihat kondisi saat ini, sastra mampu bertransformasi dalam melihat fenomena ketimpangan sosial. Sekaligus menjadi relasi antara potret ketimpangan sosial dengan realitas yang ada. Munculnya kaum marginal merupakan salah satu contohnya. Beragam hasil analisis menyebut, ketimpangan sosial di Indonesia muncul akibat penerapan kebijakan politik yang keliru. Mulai dari Orde Lama, Orde Baru bahkan sampai era Reformasi banyak kebijakan yang pemerintah hasilkan tidak berpihak pada munculnya keadilan sosial. Mengutip salah satu ungkapan dari mantan presiden Amerika, John F. Kennedy yang menyebut “Jika politik bengkok maka sastra akan meluruskannya”. Menarik jika melihat sejarah sastra Indonesia modern yang sudah memasuki usia seabad, banyak sekali karya-karya sastra beserta pengarangnya yang peka dalam merespons beragam persoalan sosial yang muncul ditengah masyarakat.

Beberapa sajak tersebut di antaranya “Sajak Burung-Burung Kondor” (Rendra), teks drama Konglomerat Burisrawa (Riantiarno), serta novel Larung (Ayu Utami). Sajak yang menggambarkan kegelisahan pengarang ketika melihat kondisi sosial yang ada. Karya yang secara tidak langsung menjadi medium dalam menyampaikan kritikan atas ketimpangan sosial ekonomi akibat kebijakan yang mengatasnamakan pembangunan. Namun nyatanya semakin memperkokoh ketimpangan tersebut. Indonesia Leaders Talk kali ini akan mencoba untuk membedah dua pemikiran sastra yang saling beririsan dan bagaimana jika dilihat dari sudut pandang kemerdekaan Republik Indonesia.

Narasumber
Akmal Nasery Basral, Penulis Novel buku Buya Hamka : Setangkai Pena di Taman Pujangga
Katrin Bandel, Kritikus Sastra
Mardani Ali Sera, Politisi PKS
Rocky Gerung, Pengamat

Moderator: Haldi Panjaitan

ILT Edisi Ke-3: Hamka, Sastra dan Manusia Merdeka

ILT dengan tagline: Dialektis, Tuntas, dan Fundamental mencoba hadir dengan rasa yang berbeda dibandingkan tayangan daring lainnya. Pada edisi awal, tanggal 3 Agustus 2020, ILT tayang setiap Senin jam 19:30-21:30. Walakin, seiring berjalannya waktu, kini ILT tayang setiap hari Jumat jam 20:00-22:00.

ILT secara live dapat disaksikan setiap pekan di:

Youtube:

Mardani Ali Sera

PKS TV

Rasil TV

Facebook:

Mardani Ali Sera

Radio:

Rasil AM 720

Tim ILT:

Penanggung Jawab: Mardani Ali Sera

Produser : Yachya & Punky Octa Wijaya

Narasumber Utama : Mardani Ali Sera & Rocky Gerung

Moderator : Haldi Zusrijan Panjaitan & Nadhil A. Muqsith

Riset & Konten : M. Dzaki & Ifan Islami

Sosmed : M. Hanief Fuady

Sound, Visual & IT : Yahya Ayyasy

GA, Media, & Networking : Ridwan R. & Luthfi A. Kamil

Design: Apriani Sabrina

Qori: Farhan Fadhillah

Last but not least silakan menikmati rangkaian episode ILT.

Semoga memberi tambahan insight baru bagi Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *