Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-6: Ancaman Resesi Ekonomi vs Cita-cita Kesejahteraan Rakyat

ILT Edisi Ke-6: Ancaman Resesi Ekonomi vs Cita-cita Kesejahteraan Rakyat

Kondisi ekonomi dunia sekarang ini sedikit unik. Perlambatan ekonomi dan krisis kesehatan terjadi hampir di seluruh dunia. Beberapa negara bahkan masuk ke dalam jurang resesi, namun yang pasti perlambatan terjadi di semua belahan dunia. Pada krisis ini, lembaran analisis ekonom bukan lah satu-satunya variabel yang dapat menuntaskan krisis. Ini adalah krisis ekonomi yang penyelesaiannya bergantung pada kerja ilmuwan di laboratorium dan tenaga kesehatan di rumah sakit. Untuk beberapa kelompok, penemuan vaksin covid-19 adalah solusi paripurna untuk membereskan semua masalah.

Kondisi perekonomian Indonesia memasuki awal tahun 2020 yang diproyeksikan membaik oleh para ekonom, berubah menjadi turun signifikan setelah hadirnya wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Secara cepat virus yang mematikan ini telah menjalar ke seluruh pelosok Negeri dan telah merenggut ribuan korban jiwa. Dengan kejadian ini, pemerintah harus memikirkan ulang skenario terbaik untuk menarik perekonomian keluar kondisi tersebut.

Menelisik dampak COVID-19 terhadap perekonomian Indonesia, hal ini dapat dianalisis melalui transmission mechanism. Richard Baldwin dan Beatrice di Mauro (2020) mengkonstruksikan model ekonomi sederhana untuk melihat bagaimana virus tersebut meluluhlantakkan perekonomian. Hadirnya COVID-19, secara bersamaan menghantam perekonomian melalui dua sisi ekonomi, guncangan pada sisi permintaan (demand Shock) dan guncangan pada sisi penawaran (supply shock). Guncangan tersebut menjalar ke sektor ekonomi lainnya dan mengakibatkan lambatnya kegiatan perekonomian. Perlambatan tersebut sudah dirasakan sejak kuartal I 2020 dimana pertumbuhan perekonomian Indonesia jatuh ke 2.97 % dari rata-rata 5%, dan pertumbuhan negatif di kuartal II 2020 sebesar minus 5.32 %, catatan terburuk sejak krisis moneter 1998.
Resesi ekonomi dapat dipastikan akan melanda Indonesia jika pertumbuhan ekonomi di kuartal III kembali negatif. Resesi ekonomi akan berpengaruh terhadap pasokan barang (supply) yang turun secara signifikan namun permintaan (demand) akan tetap. Dampaknya, semakin banyaknya pengangguran dan meningkatnya angka kemiskinan yang membayangi Negeri kita. Potensi bertambahnya angka pengangguran telah dikemukakan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN). Tingkat pengangguran dapat meningkat dari 7,7% menjadi 9,1%, meningkat 4 hingga 5,5 juta orang. Jika resesi terus terjadi hingga 2021, ada potensi angka pengangguran yang mencapai 12,7 juta orang.

Imbasnya, dampak dari resesi akan mendorong munculnya orang miskin baru. Asep Suryahadi, Ridho Al Izzati, dan Daniel Suryadarma (2020) dalam penelitiannya memproyeksikan peningkatan angka kemiskinan di Indonesia menggunakan tiga skenario berdasarkan tingkat keparahan pertumbuhan ekonomi, yaitu ringan, sedang, dan berat. Untuk skenario ringan, perekonomian hanya tumbuh 4.2%, angka kemiskinan akan bertambah sekitar 1.3 juta orang. Pada skenario moderat, pertumbuhan ekonomi 2.1% dan ada peningkatan sebesar 6 juta orang miskin baru. Sedangkan untuk skenario terburuk yang dimana perekonomian Indonesia hanya tumbuh 1%, diperkirakan akan ada 8.5 juta orang baru yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Melihat berbagai kondisi diatas, keadaan saat ini bertentangan dengan cita-cita kesejahteraan rakyat. Keadaan resesi akan sangat kontradiksi dengan janji Presiden Joko Widodo yang mengemukakan cita-cita bangsa di tahun 2045, seperti Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mencapai 7 triliun dollar AS, Indonesia akan memasuki 5 besar ekonomi dunia, serta memiliki angka kemiskinan mendekati nol persen. Tentu saja dalam kondisi yang tak terduga seperti ini, pemerintah harus mempersiapkan strategi baru untuk menyelamatkan bangsa dan mulai melihat permasalahan COVID-19 sebagai akar dari permasalahan.

Beragam upaya pemerintah lakukan salah satunya melalui program Penyelamatan Ekonomi Nasional (PEN). Namun hal tersebut belum cukup untuk membuat Indonesia terhindar dari resesi. Terlebih jika melihat pola penanganan yang pemerintah lakukan, belum memandang permasalahan kesehatan sebagai akar permasalahan dan lebih serius dalam mengatasi permasalahan ekonomi. Dapat dilihat dari nota keuangan, sektor pariwisata mendapat alokasi anggaran paling tinggi. Dalam alokasi PEN 2021, anggaran untuk kesehatan hanya sekitar Rp 25 triliun. Angka tersebut turun jauh dari alokasi tahun ini sebesar Rp 87 triliun. Sementara untuk sektor pariwisata untuk tahun depan dianggarkan Rp 136,7 triliun. Angka tersebut naik dari anggaran tahun ini sebesar Rp 106,11 triliun.

Terakhir, upaya menanggulangi COVID-19 di Indonesia belum menemui titik terang. Belakangan ini kondisinya semakin buruk, terutama dari segi kesehatan. Berbagai paket kebijakan telah pemerintah keluarkan untuk menyelesaikan masalah multidimensi COVID-19. Pemerintah menjagokan PEN sebagai panduan dalam memulihkan ekonomi nasional. Di sisi lain upaya untuk memproduksi vaksin secara mandiri terus dikembangkan. Produksi vaksin ditargetkan mulai tahun 2021, dan pemberiannya terhadap masyarakat akan memakan waktu lama hingga berbulan-bulan — menghitung jumlah infrastruktur kesehatan yang belum merata. Cita-cita kesejahteraan bangsa Indonesia nampaknya tidak dapat diwujudkan dalam waktu dekat. Indonesia Leaders Talk (ILT) kali ini akan mencoba membahas resesi ekonomi vs cita-cita kesejahteraan rakyat.

Narasumber
1. Bhima Yudhistira, Ekonom INDEF
2. Sutrisno Iwantono, Ketua APINDO
3. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
4. Rocky Gerung, Pengamat

ILT Edisi Ke-6: Ancaman Resesi Ekonomi vs Cita-cita Kesejahteraan Rakyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *