Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-7: Sepakbola dan Kualitas SDM Indonesia

ILT Edisi Ke-7: Sepakbola dan Kualitas SDM Indonesia

Pada 1956, Indonesia bertemu Uni Soviet di perempat final Olimpiade. Banyak pengamat menduga kalau pertandingan ini sangat timpang, Uni Soviet terlalu perkasa dengan banyak pemain bintangnya. Namun Ramang dkk dengan pakem 3-4-3 nya berhasil mengimbangi Uni Soviet. Bila bukan karena kepiawaian Lev Yashin, kiper terbaik dunia saat itu, Ramang bisa saja membobol gawang Uni Soviet melalui serangan balik mematikannya.

Perbedaan postur tidak menghalangi para pemain Indonesia untuk adu duel langsung dengan pemain-pemain bintang. Indonesia berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne.
Membahas romantisme kejayaan sepak bola, Indonesia punya beragam cerita. Mulai dari ikut serta Piala Dunia 1938 hingga menahan seri Uni Soviet tanpa gol. Cerita-cerita ini juga sepaket dengan redupnya Indonesia di kancah sepak bola. Tidak ada gelar major internasional yang pernah diraih Indonesia, setidaknya setelah reformasi. Fakta ini menyajikan sebuah pertanyaan mengenai sumber daya manusia Indonesia, apakah SDM Indonesia belum mampu mengumpulkan tim sepak bola yang mumpuni?

Sejak awal kemunculannya, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki antusias yang tinggi terhadap olahraga sepak bola. Hampir seluruh lapisan masyarakat menggemari olahraga ini. Sejak era kolonialisme hingga sekarang, sepak bola punya ragam fungsi mulai dari rekreasi hingga persatuan politik. Antusiasme masyarakat terbukti dengan menjamurnya klub-klub sepak bola di berbagai daerah. Dalam perkembangannya dari masa ke masa, sepak bola modern kini telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia, seperti aspek sosial, ekonomi, politik, hiburan, dan lainnya. Selain itu, sepak bola juga berperan penting pada kehidupan, sehingga menjadi hal yang menarik untuk mengikuti dan membahas setiap perkembangan olahraga ini.

Indonesia juga merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki euphoria yang tinggi, sekitar 77% warga Indonesia menyatakan suka menonton bola, hanya kalah dari Nigeria 83% (Nielsen Report, 2013). PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) sebagai induk organisasi sepak bola di Indonesia memfasilitasi euphoria tersebut dengan membuat liga dan membentuk Tim Nasional Sepakbola. Namun pada sisi lain, Tim Nasional (Timnas) Indonesia masih memiliki banyak hambatan untuk meraih gelar turnamen internasional, misalnya kualitas SDM Indonesia.

Korea Selatan dan Jepang merupakan dua negara yang rasional untuk dijadikan perbandingan. Tentu sangat sah jika Indonesia dibanding-bandingkan dengan 2 negara tersebut, secara sepak bola. Jepang bukanlah negara sepak bola, dengan kata lain, olahraga paling populer di sana bukanlah sepak bola, melainkan baseball. Sedangkan di Indonesia, olahraga paling populer adalah sepak bola. Populasi Jepang dan Korea Selatan pun di bawah populasi Indonesia. Namun, saat ini, mereka telah menjadi raja sepakbola di Asia. Salah satu indikasinya adalah semakin meningkatnya pemain yang mereka “ekspor” negara-negara Eropa. Dan yang lebih signifikan lagi, jumlah pemain Jepang dan Korsel yang bermain reguler di tim-tim Eropa telah meningkat.

Menelisik relevansi sepak bola dan kualitas sumberdaya manusia, dapat kita lihat dari spektrum yang lebih luas. Dalam kasus ini, kualitas sumber daya manusia merupakan determinasi utama dari maju nya suatu peradaban. Menurut teori pertumbuhan neo-klasik yang dikembangkan oleh Robert Solow dan T.W. Swan (1956), suatu negara yang menuju status kemapanan ekonomi atau steady state, ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia. Teori ekonomi Solow-Swan memperkenalkan variable teknologi yang pada teori pertumbuhan Harrod-Domar tidak dimasukan sebagai variabel pengikat. Inti dari pertumbuhan Solow-Swan, menjelaskan bahwa tenaga kerja yang terintegrasi dengan kemajuan teknologi dapat meningkatkan produktivitas atau output. Sehingga, tingkat kemahiran tenaga kerja menggunakan atau memanfaatkan teknologi, dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja (Todaro, M.P. 2011).

Lantas menjadi pertanyaannya adalah bagaimana kualitas sumber daya manusia Indonesia saat ini? Berdasarkan pengukuran dari United Nation Development Programme (UNDP) menggunakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indonesia berada pada urutan ke enam di Asia tenggara dan peringkat 111 dari 189 negara di dunia (Cnbc Indonesia.com,2020). Variabel-variabel pengukuran indeks tersebut menggunakan dimensi Kesehatan yang dinilai dari angka harapan hidup, dimensi pendidikan yang menggunakan harapan lama sekolah, dan dimensi standar hidup yang diukur dengan pendapatan per kapita. Dengan menggabungkan ketiga dimensi tersebut, terefleksikanlah masalah-masalah pembangunan manusia yang masih terjadi di Indonesia.

Apabila kita menelaah lebih dalam dimensi-dimensi indeks pembangunan manusia, menggunakan variabel rata-rata lama sekolah memang Indonesia dapat dikatakan membaik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, rata-rata lama sekolah meningkat 0,17 tahun menjadi 8,34 tahun, meningkat dari tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukan bahwa penduduk usia 25 tahun keatas telah menempuh pendidikan 8,34 tahun atau hingga kelas IX (nasional.kontan.co.id, 2020). tetapi menjadi pertanyaan selanjutnya bagaimana dengan mutu pendidikan Indonesia ? menurut data dari Programme for International Study Assessment (PISA) di tahun 2018, mutu pendidikan indonesia masih relatif buruk karena hanya memperoleh skor 396, jauh dari rata-rata skor OECD sebesar 489. Hasil buruk tersebut menempatkan posisi kita di urutan ke-74 dari 79 negara (Kumparan.com.2019). Oleh Karena itu, gebrakan reformasi di dunia pendidikan dengan program “merdeka belajar” diharapkan mampu mendorong mutu pendidikan Indonesia kearah yang lebih baik lagi.

Dari pendapatan perkapita, berdasarkan kategorikal Bank Dunia, Indonesia memang sudah naik kelas menjadi negara menengah atas (upper middle income countries) dimana pendapatan nasional bruto naik dari US$ 3.840 menjadi US$4.050 . Akan tetapi untuk naik ke kelas selanjutnya, Indonesia harus melompati rintangan besar yang disebut sebagai Middle-Income Trap. Syarat untuk melalui rintangan tersebut adalah kebijakan membangun industri yang memberikan value-added tinggi, serta mampu berdaya saing di tingkat global. Oleh karena itu harus ada sinergitas kebijakan yang meningkatkan kualitas pembangunan manusia dari segi mutu pendidikan dan juga mendorong high technological industry.

Sebagai penutup, menelisik kualitas sepak bola Indonesia saat ini diibaratkan seperti “Roller Coaster” di suatu wahana. Terkadang ia membanggkan, tetapi sering juga memberikan kekecewaan karena hasil yang tidak maksimal. Masalah sepak bola tanah air dapat ditarik paralel terhadap masalah kualitas sumber daya manusia indonesia yang memang jauh dari harapan. Sebagai bangsa yang memasuki era bonus demografi, sudah menjadi kewajiban negara memberikan arahan strategis agar kualitas sumber daya manusianya mampu bersaing di kancah internasional. Oleh karena itu Indonesia Leaders Talk kali ini akan mencoba membahas sepak bola dan kualitas SDM Indonesia.

Narasumber
1. Kurniawan Dwi Yulianto, Mantan Pemain Tim Nasional
2. Mien Rachman Uno, Tokoh Entrepreneur, Pakar Gerak Tubuh
3. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
4. Rocky Gerung, Pengamat

ILT Edisi Ke-7: Sepakbola dan Kualitas SDM Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *