Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-8: Kepemimpinan di Masa Krisis

ILT Edisi Ke-8: Kepemimpinan di Masa Krisis

Suatu pagi yang cerah kini berubah seketika menjadi sendu sepi diselimuti awan tebal di kota Dunkirk. Para tentara Inggris kala itu gundah gulana akibat kepungan tentara Jerman yang telah menguasai mayoritas kota Dunkirk. Kapal-kapal evakuasi sekutu berhasil diledakkan oleh pesawat Jerman yang berlalu-lalang di udara. Satu persatu benteng pertahanan tentara Inggris berhasil direbut oleh musuh akibat kecanggihan alutsista Jerman dan strategi perang yang jitu. Tentara Inggris dan beberapa tentara sekutu yang jumlahnya lebih dari 300 ribu prajurit, satu persatu mulai tumbang harapan untuk hidup akibat kepungan musuh yang semakin hari semakin dekat. Akan tetapi, harapan untuk keluar dari momen tersebut tidak boleh tumbang bagi seorang pemimpin. Pemimpin harus punya akal kreatif sehingga dapat memberikan solusi mutakhir keluar dari momen-momen krisis.

Momen-Momen diatas merupakan gambaran sekilas tentang masa-masa krisis yang dihadapi oleh Winston Churchill pada masa kepemimpinannya, dimana kala itu Inggris merupakan salah satu negara yang berpartisipasi dalam Perang Dunia Kedua. Churchill yang baru-baru memimpin menjadi perdana menteri, didesak baik dari partai oposisi maupun internal partai konservatif. Gayanya yang tergolong “wild card” dan eksentrik, membuatnya kerap kali terpojokkan ketika membuat keputusan.

Akan tetapi, “menyerah” tampaknya tidak ada dalam kamus kehidupannya seorang Winston Churchill. Hal tersebut dibuktikan dengan suatu momen yang disebut sebagai “Operasi Dynamo” dimana ia berhasil mengevakuasi 338,226 tentara Inggris dan sekutu keluar dari kepungan tentara musuh. Berkat strategi perang yang cerdas dan kewibawaan militeristik yang apik, Churchill berhasil mengumpulkan dukungan masyarakat meminjamkan perahu-perahu kecil yang digunakan untuk mengevakuasi para prajurit Inggris. Keberhasilan pada operasi tersebut membuatnya berhasil mengantongi dukungan politik dari parlemen Inggris untuk terus berperang habis-habisan sehingga dapat keluar dari masa-masa krisis Perang Dunia Kedua.

Pemimpin yang sesungguhnya akan benar-benar diuji dalam kondisi krisis, seperti saat pandemi COVID-19 sekarang ini. “Seorang pemimpin adalah pemberi harapan.” begitu kata Napoleon Bonaparte. Pandemi COVID-19 memiliki ciri khas sebagai krisis “landscape-scale” atau berskala luas yang dapat dimaknai sebagai peristiwa tidak terduga yang terjadi dengan kecepatan luar biasa. Maka dari itu dibutuhkan sosok pemimpin yang memiliki keahlian dalam crisis leadership. Crisis leadership dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk membuat seluruh pihak beradaptasi dengan ketidakpastian dengan cara membuat titik tengah untuk melaksanakan perintah dan kontrol sehingga masing-masing pihak dapat berhubungan, berkolaborasi, dan berkoordinasi satu sama lain untuk menghasilkan nilai bagi masyarakat (Pfeifer, 2013).

Variabel kepemimpinan ini bukanlah abstraksi atau konsepsi yang sumir. Ia jelas jadi salah satu variabel penentu kesuksesan sebuah negara atau wilayah dalam menangani covid-19. Frasa “semua negara kesulitan menghadapi covid-19” adalah hal yang benar di satu sisi, namun “beberapa negara berhasil mengontrol covid-19” adalah kebenaran di sisi yang lain. Pada bulan Februari beberapa kepala negara, yang punya visi yang baik, sudah melihat bahaya covid-19. Misalnya Angela Merkel, Kanselir Jerman, dan Jacinda Ardern, PM Selandia Baru. Mereka mengeluarkan kebijakan preventif yang pada saat itu dinilai ‘aneh’, Merkel menutup sekolah, toko retail dan melakukan restriksi pada awal Maret. Sebuah kebijakan yang ‘aneh’ mengingat kasus positif di Jerman tidak terlalu tinggi pada saat itu. Jacinda di sisi lain berani melakukan lockdown di negaranya pada saat kasus positif hanya 102 tanpa ada orang yang meninggal. Kebijakan mereka awalnya dianggap tidak biasa, namun toh banyak negara yang kemudian mengambil sikap yang sama karena tidak melihat ada opsi yang lebih baik. Dalam hal ini visi dan kepemimpinan seorang kepala negara berpengaruh dalam mengatasi krisis.

Hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin yakni menyadari bahwa negara sedang menghadapi krisis. Untuk mengantisipasi ancaman potensial dari krisis yang berkembang, pemimpin perlu menekan bias kenormalan yang dapat menyebabkan mereka meremehkan kemungkinan maupun dampak yang dapat dihasilkan. Ketika pemimpin menyadari terjadinya krisis, mereka dapat memulai memikirkan bagaimana merespon peristiwa tersebut. Dalam krisis terdapat banyak ketidakbiasaan dan ketidakpastian, perlu dilakukan penyesuaian besar untuk memberikan respon secara efektif. Hal yang dibutuhkan oleh para pemimpin saat terjadi krisis bukanlah penanganan yang telah terencana sebelumnya, melainkan perilaku dan pola pikir yang dapat mencegah reaksi yang berlebihan terhadap krisis dan bagaimana menghadapi tantangan ke depan.

Kemudian, hal berikutnya yang harus dilakukan sebagai seorang pemimpin di masa krisis adalah sikap dalam menentukan keputusan yang tepat. Untuk mengambil kebijakan yang tepat dalam ketidakpastian di masa krisis, seorang pemimpin perlu untuk terus mengumpulkan informasi yang sesuai dengan perkembangan masa krisis atau situasional yang disertai dengan pengamatan mengenai respons dari kebijakan yang telah diberikan, dalam hal ini pemimpin akan dapat mengendalikan masa krisis melalui penilaian situasi yang melibatkan berbagai sudut pandang, kemudian mengantisipasi langkah yang akan dilakukan serta menentukan tindakan yang tepat untuk diambil.

Banyak pemimpin di dunia yang belum menjalankan peran kepemimpinannya dengan tepat, tentu saja hal ini membuat permasalahan semakin kompleks, khususnya dalam ranah kesehatan dan ekonomi. Kompleksnya permasalahan yang diawali oleh pengambilan keputusan tidak tepat juga telah dialami Indonesia, yang kini telah memasuki masa krisis COVID-19 dengan total 241 ribu kasus disertai dengan perlambatan ekonomi yang semakin parah. Dalam menghadapi masa krisis seperti ini, seorang pemimpin harus hadir sebagai wujud bahwa negara telah dikelola dengan baik. Setidaknya dalam permasalahan ini, dibutuhkan gaya kepemimpinan seorang pemimpin yang cepat tanggap dalam pengambilan keputusan untuk meminimalisir penyebaran COVID-19. Indonesia Leaders Talk edisi ke 8 kali ini akan mencoba membahas Kepemimpinan dalam Masa Krisis

Narasumber
1. Sudirman Said, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI 2014-2016
2. Dahlan Iskan, Menteri BUMN 2011-2014
3. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
4. Rocky Gerung, Pengamat

ILT Edisi Ke-8: Kepemimpinan di Masa Krisis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *