Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-9: Wayang dan Warisan Budaya Bangsa

ILT Edisi Ke-9: Wayang dan Warisan Budaya Bangsa

Wayang merupakan warisan bangsa yang telah hadir pada masa sebelum datangnya bangsa Hindu ke nusantara, yang dalam sejarahnya turut berkaitan dengan masuknya kebudayaan Hindu, Kristen, Islam, dan bangsa Cina ke Indonesia. Wayang telah menjadi salah satu puncak seni bangsa yang paling dikenal dan menonjol di antara budaya lainnya. Budaya wayang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga turut berfungsi sebagai media penerangan dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, ataupun hiburan. Kemudian sejak tahun 2003, budaya wayang telah diakui dunia dan dikukuhkan oleh UNESCO sebagai “Masterpiece” dari budaya bangsa yang memiliki ciri khas dan karakter yang kuat baik dari segi karakter tokoh ataupun cerita pewayangannya.

Wayang dalam pengertian “bayang-bayang” memberi gambaran bahwa didalamnya terkandung unsur lukisan yang meliputi berbagai aspek kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain, alam dan Tuhan. Pada sisi lain, terdapat banyak cerita pewayangan nusantara yang ikonik dan populer, seperti Yudhistira sebagai seorang raja yang sabar, berhati suci, dan selalu menegakkan kebenaran, Gatotkaca yang memiliki kekuatan luar biasa, Bima sebagai ksatria yang ideal, Arjuna sebagai tokoh wayang yang tampan dan memiliki ajian naracabala, Nakula & Sadewa sebagai tokoh pewayangan kembar yang cerdas dan bijaksana, dan tokoh lainnya yang memiliki nilai sosial dan cerita yang sarat akan pelajaran hidup.

Menelisik lebih dalam ontologis wayang diluar sudut pandang vitalisme, pandangan ontologis wayang pada masa nenek moyang pra Hindu-Budha diwarnai kuat terhadap pemujaan arwah leluhur. Pemanggilan dan pemujaan ini dilakukan untuk memohon keselamatan dan restu dari leluhur mereka. Akan tetapi, datangnya Hindu-Budha mulai mengalami perkembangan menuju eksistensialisme teistik. Wayang menjadi media pengejawantahan cerita para dewa dan wadah menjawab fenomena alam yang merupakan kekuatan magis dari sang dewa. Wayang selain menjadi pelengkap ritual ibadah, juga berperan sebagai sarana pembelajaran dan penyebaran ajaran Hindu-Buddha (siswanto. Nurhadi. 2017).

Masuknya Islam ke dalam masyarakat lokal yang secara kultural Hindu-Budha, para Walisongo menggunakan seni budaya, khususnya wayang, sebagai metode dakwah. Walisongo mengubah literatur wayang yang bercorak hindusitik dengan ajaran Islam. Konsep-Konsep politeistik dewa-dewa tahap demi tahap diubah menjadi konsep ajaran tauhid mengesakan tuhan yang tunggal. Cerita para lakon-lakon hindustik secara bertahap diubah menjadi kisah-kisah para Nabi. Sehingga dapat disimpulkan masuknya Islam telah mengubah pandangan ontologis dalam hal ketuhanan. Wayang digunakan sebagai wadah de-dewanisasi atau desakralisasi terhadap konsep Dewa, sehingga konsep ketauhidan dapat diterima oleh masyarakat lokal (siswanto. Nurhadi. 2017).

Bagi orang-orang yang mengerti cerita wayang, menggemari pertunjukannya karena menyajikan cerita yang menarik dan tokoh-tokoh yang dapat diteladani. Tidak hanya itu, pertunjukkan wayang juga diselingi dengan cerita kehidupan sosial bermasyarakat, yang menyangkut berbagai aspek, berumah tangga, keberagaman, ekonomi, hingga politik. Semua itu disajikan untuk menjadikan pertunjukan wayang tidak sekedar tontonan, tapi juga tuntunan yang dapat diterima oleh masyarakat.

Namun sayangnya, dewasa ini ketika arus globalisasi semakin deras terjadi, maka kesenian wayang telah dipaksa untuk berkontestasi dengan budaya-budaya lain yang semakin mudah untuk diakses dan ditiru. Terutama di kalangan pemuda yang cenderung memiliki haluan kepada budaya-budaya negara lainnya, seperti budaya Jepang, budaya Korea dan juga budaya-budaya yang berada di Eropa atau Amerika Serikat. Terlebih di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, wayang sebagai salah satu hiburan, harus bersaing dengan hiburan lain, seperti televisi, media sosial, dan permainan (games). Di generasi berikutnya, tantangan tentu akan lebih besar lagi. Padahal mengutip buku berjudul Wayang Sebagai Warisan Budaya Dunia yang ditulis oleh Soetrisno R, tahun 2010, wayang merupakan salah satu unsur jati diri bangsa Indonesia dan mampu membangkitkan rasa solidaritas menuju persatuan. Wayang mempunyai peran yang bermakna dalam kehidupan dan pembangunan budaya, khususnya untuk membentuk watak bangsa.

Narasumber
1. Edy A. Effendi, Penulis dan Penikmat Wayang
2. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
3. Rocky Gerung, Pengamat

ILT Edisi Ke-9: Wayang dan Warisan Budaya Bangsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *