Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-16: Milenial dan Semangat Kerelawanan

ILT Edisi Ke-16: Milenial dan Semangat Kerelawanan

Sapiens can cooperate in extremely flexible ways with countless number of strangers, That’s why sapiens rule the world” – Yuval Noah Harari on Sapiens

Konsep kerelawanan belakangan ini mulai menarik untuk dibahas karena saat ini kita sedang bersama-sama menghadapi satu musuh “tak terlihat” , yaitu Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19. Secara cepat virus yang mematikan ini telah menjalar ke seluruh pelosok negeri dan telah merenggut ribuan korban jiwa. Para tenaga medis dan relawan berusaha dengan maksimal mungkin menolong pasien tanpa mengenal lelah dan waktu. Mereka mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya demi menyelamatkan jutaan nyawa umat manusia.

Dalam ilmu sosial, fenomena perilaku kerelawanan atau membantu orang membutuhkan bersumber pada sifat altruistik yang terpatri dalam dirinya. Lawrence A. Bloom mendefinisikan altruisme sebagai “sikap dan dorongan dalam diri manusia untuk melakukan suatu tindakan yang mendatangkan keuntungan atau kebaikan bagi orang lain” mengapa manusia bersikap altruis? Mengapa manusia rela membahayakan dirinya demi orang lain? Seorang filsuf berkebangsaan Australia, Peter Singer mencoba untuk menjawab pertanyaan seputar dasar dari sifat altruistik yang terpatri di dalam jiwa manusia (Jena, Yeremias. 2018)

Menurut Singer, perilaku manusia menolong orang lain, bahkan rela mengorbankan dirinya memang berasal dari dorongan altruistik dalam diri manusia. Ia kemudian mensinyalir bahwa pada level primordial pun manusia membutuhkan aturan atau prinsip etis tertentu, termasuk kesepakatan untuk tidak saling melukai satu sama lain. Prinsip ini yang menandai bahwa perilaku tolong menolong semata-mata demi kebaikan orang yang ditolong didorong oleh tingkah laku etis manusia dan sifat altruistik, bahkan hingga pada level primordial sekalipun. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku altruistik bersifat alamiah dan bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar (Jena, Yeremias. 2018).

Lebih lanjut, Peter Singer menegasikan pandangan etika filsafat yang menetapkan hakikat manusia sebagai makhluk egoistis, yang hanya mementingkan untuk bertahan hidupnya atau survival of the fittest. Peter Singer menantang filsuf-filsuf besar seperti J.J Rousseau dan Thomas Hobbes yang secara eksplisit memandang bahwa manusia adalah makhluk yang hanya mementingkan diri sendiri. Argumentasi Peter Singer menitikberatkan adanya kekeliruan cara pandang Thomas Hobbes terhadap moralitas yang mengatur kehidupan, bukan bagian alamiah manusia. Bagi Hobbes, kondisi alamiah manusia meletakkan manusia sebagai aktor persaingan melawan manusia lain. Sehingga dibutuhkan negara menjadi otoritas terakhir yang menciptakan keteraturan, memaksakan norma-norma, demi mengakhiri persaingan antar manusia. Akan tetapi, pemikiran tersebut tidak mampu menjawab mengapa manusia mampu bekerja sama dan saling percaya dalam periode yang lama? Oleh karena itu, Peter Singer tetap konsisten bahwa secara alamiah “manusia adalah altruis, bukan egois” (Jena, Yeremias. 2018).

Setelah kita melihat bahwa sifat altruistik merupakan sifat alamiah manusia. Teori tersebut sangat cocok menggambarkan kondisi kerelawanan, khususnya kelompok pemuda membantu masyarakat yang terkena imbas COVID-19. Menurut beberapa platform donasi atau crowdfunding, selama pandemi COVID-19 berlangsung, tercatat terjadi peningkatan dalam trafik. Donasi digital pada platform LinkAja meningkat dua kali lipat. Bahkan, platform Kitabisa.com terdapat kenaikan frekuensi donasi hingga empat kali lipat sejak Maret 2020 (Bisnis.com. 2020) Dengan tren kenaikan tersebut, menandakan tingginya antusiasme masyarakat untuk saling membantu orang-orang lain yang terdampak. Kemudian munculnya Kurir Kebaikan yang bermula dari inisiatif teman-teman influencer yang sudah dan akan melakukan aksi sosial untuk melawan Covid-19. Tim ini kemudian berlanjut merencanakan apa saja yang bisa dikolaborasikan. Kapasitas, jejaring, sumber daya, dan kelebihan satu sama lain akan saling bertautan dan jadi gelombang kebaikan yang besar.

Di masa pandemi seperti ini, peran generasi milenial sangat dibutuhkan untuk menghasilkan ide-ide segar yang out of the box. Dengan semakin canggihnya teknologi dan internet, Generasi Milenial lebih mudah untuk menyebarluaskan suatu isu menjadi keresahan bersama. Dengan demikian, generasi muda dapat menuangkan semangat solidaritas dan altruisme untuk mengatasi keresahan kolektif tersebut. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang menancapkan banyak manfaat untuk sekitarnya. Dalam situasi darurat ini, beragam pilihan kemudian muncul, #DirumahAja sebagaimana yang dianjurkan Pemerintah atau melakukan aksi sosial yang dibutuhkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, Indonesia Leaders Talk edisi ke-16 kali ini akan mencoba membahas “Milenial dan Semangat Kerelawanan”

Narasumber:
1. Dokter Tirta Hudhi, Relawan Penanggulangan COVID-19
2. Mustafa MY Tiba, Ketua MRI Nasional
3. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
4. Rocky Gerung, Pengamat

ILT Edisi Ke-16: Milenial dan Semangat Kerelawanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *