Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-27: Utak-Atik Wakaf

Poster:

Wakaf pada umumnya merupakan perbuatan derma harta seseorang untuk keperluan ibadah ataupun kebermanfaatan bagi umat secara luas. Sifat derma dalam wakaf adalah ikhlas, artinya tidak mengharapkan timbal balik dalam bentuk material, bisa juga disebut sebagai hibah atau pemberian yang suci. Dalam prosesnya, pihak yang melakukan wakaf disebut wakif, lalu pihak yang menerima sekaligus pengelola harta wakaf disebut nazhir.

Harta benda yang diwakafkan haruslah berorientasi kepada kebermanfaatan bagi umat serta tidak boleh diperjualbelikan. Prinsip tersebut merupakan dasar daripada wakaf. Pada  kasus yang sering dijumpai, wakaf umumnya berbentuk bangunan atau tanah, yang kemudian oleh nazhir dikelola untuk kepentingan umat, misalnya untuk sekolah, tempat pemakaman, dsb. Harta benda tersebut tidak boleh diperjualbelikan, tanah yang diberikan oleh wakif tidak boleh dijual kembali.

Dalam bentuk lain, pemerintah mengajak umat untuk melakukan wakaf dalam bentuk uang. Pemerintah pun membentuk program dan kampanye Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai pengelolanya. Wakaf uang punya keunggulan di fleksibilitas dan beragam kanal pemanfaatannya. Namun hal ini menjadi sulit dalam pertanggungjawabannya ketimbang wakaf benda. Walau demikian, wakaf uang secara massif diharapkan dapat memajukan sekaligus mensejahterakan umat melalui penyaluran ke bidang-bidang krusial. Pada 2018, Badan Wakaf Indonesia (BWI) menyebutkan potensi  wakaf uang di Indonesia mencapai Rp 180 triliun per tahun. Besarnya potensi wakaf uang dianggap belum dioptimalkan sepenuhnya. Padahal saat ini mobilisasi dan pemanfaatan wakaf uang sangat diperlukan. Wakaf uang memiliki kelebihan dibandingkan wakaf dalam bentuk lain karena wakaf uang berhubungan langsung dengan kegiatan bisnis dan investasi. Dalam fatwa MUI No 2 Tahun 2002 tentang wakaf uang disebutkan bahwa wakaf uang hukumnya jawaz (boleh) dan hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syar’i. Selain itu juga disebutkan nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tak boleh dijual, dihibahkan, dan/atau diwariskan

Program GNWU tentunya diiringi janji pemerintah untuk memantapkan pengelolaan yang modern, profesional dan amanah. Dalam banyak kesempatan, Pemerintah menegaskan bahwa wakaf uang tidak akan masuk ke kas negara dan murni akan dimanfaatkan untuk kepentingan umat yang mana nilai yang diberikan tidak akan berkurang. Gerakan in juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan maupun kesadaran masyarakat sehingga terdorong untuk melakukan wakaf uang. Transformasi pengelolaan wakaf uang juga ditargetkan dapat menghadirkan informasi kinerja pengelolaan wakaf nasional yang lebih komprehensif.

Terdapat beberapa catatan yang membuat GNWU terlihat sebagai tambahan ‘kas negara’ di tengah situasi sulit. Tidak dapat dipungkiri bahwa keuangan negara sedang tidak sehat, dengan penurunan tajam pertumbuhan ekonomi serta defisit yang melebar. Di sisi lain pemerintah harus terus menggenjot perekonomian, salah satunya dengan melanjutkan pembangunan infrastruktur tepat guna. Kemudian GNWU muncul di tengah keadaan paceklik dengan harapan tinggi.

Beberapa kalangan menilai bahwa timing GNWU tidak tepat, sehingga banyak menimbulkan mispersepsi. Salah satu titik yang menyebabkan mispersepsi adalah pengelolaan dan tujuan wakaf, apakah pengelola dapat menyalurkan wakaf dalam jumlah besar tanpa mengurangi prinsip wakaf. Lalu kemana ujung dari wakaf tunai ini, selama ini masyarakat banyak mengartikan wakaf dalam bentuk konvensional seperti kuburan dan rumah ibadah. Argumen lainnya, ada hal lain yang lebih mendesak terkait tugas  BWI yakni menyelesaikan persoalan banyak tanah dan aset wakaf yang belum bersertifikat. Tercatat, tanah wakaf di Indonesia yang belum bersertifikat sebesar 40% baik tanah wakaf yang lama melalui proses yang turun menurun maupun tanah wakaf yang baru. Dengan fakta ini, BWI seharusnya melakukan program percepatan sertifikasi tanah wakaf dalam rangka mengamankan aset wakaf tersebut, dibandingkan dengan program wakaf tunai semacam CWLS.

Misi mulia dari wakaf uang harus tepat sasaran dalam pikiran masyarakat, kepercayaan masyarakat adalah hal utama yang harus didapat. Oleh karena itu, Indonesia Leaders Talk edisi ke 27  kali ini akan mencoba membahas “Utak-Atik Wakaf”

Narasumber:
1. Tengku Zulkarnain, Ulama
2. Irfan Syauqi Beik (Anggota Badan Wakaf Indonesia)
3. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
4. Rocky Gerung, Pengamat

ILT Edisi Ke-26: Utak-Atik Wakaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *