Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-28: Hijrah dan Perubahan Untuk Negeri

Poster:

Hijrah punya kaitan kuat dengan perubahan dan transformasi. Hijrah bukan hanya sekedar berpindah, tapi menyusun kekuatan dengan tujuan memperjuangkan tujuan kebenaran bersama komunitas. Secara historis, hijrah merupakan perpindahan dua belas pria dan empat wanita muslim Mekah ke Habasyah, peristiwa ini bermula pada tahun 615 M lalu kemudian disusul oleh beberapa orang lagi selang beberapa tahun. Di dalam peristiwa tersebut, umat Islam tidak hanya berpindah tempat, namun juga terus berproses membentuk peradaban yang lebih bermartabat.

Hijrah dimaknai sebagai energi merekatkan persaudaraan. Lihatlah momentum hijrah juga memberikan satu pelajaran tentang persaudaran antara sahabat muhajirin (orang yang berhijrah) dan sahabat anshor (orang menolong). Sikap tolong menolong dalam kebaikan diperlihatkan oleh sahabat anshor yang menerima kedatangan umat Islam dari Makkah tanpa membawa bekal apapun. Momentum tidak membelah identitas pendatang dan penduduk asli tetapi justru menyatukan persaudaraan umat. Semangat ini penting ditegaskan kembali untuk menyatukan masyarakat dari berbagai perbedaan. Semangat hijrah mengajarkan bahwa perbedaan sesama umat Islam karena latar suku, bahasa dan etnik bukan halangan untuk bersatu dalam satu ikatan persaudaraan keimanan dalam konteks berbangsa. Inilah yang ditunjukkan oleh ikatan persaudaraan kaum muhajirin dan anshor di Madinah dalam peristiwa hijrah.

Semangat perdamaian merupakan energi dari hijrah yang sangat relevan dikontekstualisasikan dalam kondisi berbangsa dan bertanah air saat ini. Keragaman budaya, suku, etnik dan bahasa di Indonesia merupakan hal yang tidak bisa dihapus dan dinafikan. Inilah corak dan karakter bangsa. Tugas masyarakat adalah merawat perdamaian tersebut untuk selalu menjadi energi pemersatu bangsa melalui semangat hijrah.

Hijrah juga dapat merujuk pada fenomena kiwari, ketika banyak anak muda yang semangat menerapkan nilai-nilai Keislaman. Komunitas hijrah pun muncul dengan berbagai variannya. Gerakan kehijrahan di kelompok pemuda lalu digerakkan melalui platform komunitas, terutama yang berbasis hobi. Dengan kondisi tersebut, hijrah muncul sebagai sebuah fenomena unik ketika komunitas hobi dapat menjadi wadah semangat keislaman pemuda di Indonesia.

Semangat perubahan di dalam aspek ekonomi juga muncul bersama dengan semarak Hijrah. Pengelolaan Bank syariah jadi dambaan dan tumbuh pesat bersamaan dengan fenomena Hijrah, kira-kira demikian analisis parah ahli. Artinya hijrah tidak sekadar menjadi soleh secara individu, namun punya dampak sosial dan lingkungan yang luas. Di aspek ekonomi kepedulian terhadap ekosistem muamalah meningkat sebagai jalan alternatif memperkuat ekonomi umat. Di bidang lingkungan, banyak masjid sadar akan ekosistem less waste dan berkampanye terhadap isu lingkungan, misalnya gerakan less waste Shift di Bandung.

Pada akhirnya, pemaknaan hijrah dalam konteks kebangsaan adalah perubahan mental dan sikap umat menuju sikap yang dapat mewujudkan kondusifitas, keamanan dan kenyamanan. Masyarakat perlu segera melakukan transformasi dari sikap dan tindakan yang menyuburkan perpecahan seperti ujaran kebencian, saling provokasi, intimidasi menuju sikap santun dan ramah yang dapat menciptakan kondisi yang aman, harmonis dan saling menghormati. Terlebih banyak peluang yang bisa dimaksimalkan seperti yang telah dijabarkan di atas. Oleh karena itu, Indonesia Leaders Talk edisi ke 28 kali ini akan mencoba membahas “Hijrah dan Perubahan Untuk Negeri”

Narasumber

  1. Sahrul Gunawan, Artis, Wakil Bupati Bandung Terpilih
  2. Ucok, Owner Distro Jakcloth
  3. Asep Haerul Gani, Psikolog
  4. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
  5. Rocky Gerung, Pengamat
ILT Edisi Ke-28: Hijrah dan Perubahan untuk Negeri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *