Indonesia Leaders Talk Edisi ke-29: Tesla dan Kualitas Pendidikan Kita

Poster:

Kendaraan listrik digadang-gadang sebagai simbol masa depan. Simbol kegemilangan ini terejawantahkan dalam sosok Elon Musk, pemimpin dari perusahaan otomotif Tesla. Elon dianggap sebagai tokoh yang tidak hanya jenius, namun juga punya cara pandang yang visioner. Pandangannya tajam ke depan. Tesla hanya satu dari banyak visi Elon. Ia bahkan punya perusahaan pembuat roket angkasa; SpaceX. Sosok Elon sejatinya dapat dijadikan rujukan bagi sistem pendidikan Indonesia; bagaimana sistem pendidikan menciptakan sosok seperti Dia?

Elon sendiri menyatakan kegundahannya tentang bagaimana sistem pendidikan bisa relevan dengan dunia modern. Ada banyak sekolah yang bagus di luar sana, namun tidak banyak yang menjelaskan mengapa siswa-siswa harus mempelajari mata pelajaran tertentu, misalnya. Bagi Elon kata kuncinya adalah relevan. Sistem pendidikan harus relevan dengan apa yang dibutuhkan oleh dunia modern, serta harus memberikan makna terhadap apa yang dipelajari.

Tentang kendaraan listrik, Indonesia sedang memacu dan mempersiapkan diri untuk dapat bersaing pada komoditas ‘masa depan’ ini. Secara ekonomi, Indonesia sedang mempersiapkan infrastruktur dan elemen lain untuk menunjang gerak dari industri masa depan ini. Teranyar Toyota dan Hyundai telah berkomitmen untuk melakukan investasi pada industri mobil listrik. Disisi lain juga ada potensi baterai listrik yang sampai sekarang wacananya berkembang ke arah yang positif.

Di Indonesia, riset dan insinyur di bidang kendaraan listrik tentunya mudah ditemukan. Namun hingga kini belum ada satu merk dagang mobil nasional yang mampu bersaing di tingkat domestik. Yang nahas yakni ketika punggawa atau ilmuwan di bidang mobil listrik dipenjara karena riset dan produknya dianggap gagal dan merugikan negara. Kondisi ini membawa kita pada satu pertanyaan, apakah sistem Indonesia telah berhasil menciptakan ilmuwan yang berpikir visioner, ataukah regulasi pemerintah yang justru jadi ‘gunting’ terhadap visi tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata ideal. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh BPS, untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2020 berada di posisi 70,94 atau mengalami kenaikan sebesar 0,02 poin dari tahun sebelumnya. Kendati demikian, Indeks Pembangunan Manusia apabila menggunakan versi yang dikeluarkan oleh UNDP, untuk tahun 2020 Indonesia menduduki peringkat ke 107 dari 189 negara. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, Indonesia masih jauh terlampau di peringkat kelima, di bawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand.

Selain masalah kualitas, masalah mismatch antara dunia pendidikan dan dunia kerja juga menjadi masalah utama pendidikan nasional. Masalah ini tentu berdampak pada peningkatan jumlah pengangguran untuk usia produktif. Mugijayani, W (2020) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa 3 hingga 4 dari 10 pekerja mengalami mismatch antara pendidikan yang diperoleh dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Mismatch pendidikan dan dunia kerja dapat menyebabkan peningkatan pengangguran dan menyebabkan alokasi yang tidak efisien dari sumber daya yang diinvestasikan dalam pendidikan, serta pendapatan yang kurang optimal bagi individu atau bahkan adanya penalty wage.

Persoalan yang terjadi belakangan ini terkait dengan investasi, seperti yang telah dijelaskan di awal, semua bermuara kepada kualitas pendidikan di Indonesia. Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia sangat mempengaruhi efisiensi Investasi di Indonesia. Masih banyak pekerja yang punya pendidikan rendah serta kemampuannya masih sangat terbatas. Padahal, anggaran yang dikucurkan untuk pendidikan sudah cukup besar yakni mencapai 20% dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Alasan ini yang menjadi salah satu penyebab Tesla memilih India sebagai pusat penelitian dan pengembangan (R&D) di Bengaluru. Sebab, Bengaluru juga dikenal sebagai “Silicon Valley Asia” yang kerap menghadirkan inovasi-inovasi mutakhir.

Daya saing adalah kata kunci berikutnya bila membahas sistem pendidikan. Dunia memasuki era dimana penemuan terjadi setiap hari, bahkan detik ini pun boleh jadi telah muncul penemuan-penemuan baru. Apa yang dipelajari kemarin di bangku sekolah, boleh jadi sudah tidak relevan karena penemuan yang terjadi detik ini dan bagaimana sistem pendidikan dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut. Oleh karena itu, Indonesian Leaders Talk edisi ke-29 kali ini akan mencoba membahas “Tesla dan Kualitas Pendidikan Kita”

Narasumber

  1. Dahlan Iskan, Menteri BUMN (2011-2014)
  2. Lendo Novo, Founder Sekolah Alam
  3. Prof Arief Rahman, Guru Besar
  4. Indra Charimiadji, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan
  5. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
  6. Rocky Gerung, Pengamat
ILT Edisi Ke-29: “Tesla dan Kualitas Pendidikan Kita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *