Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-31: Peta Jalan Pendidikan: Menuju Indonesia Adil dan Makmur

ILT Edisi Ke-31: Peta Jalan Pendidikan: Menuju Indonesia Adil dan Makmur

Bangsa yang maju dan modern adalah bangsa yang unggul peradabannya. Peradaban merupakan bentuk budaya tertinggi dari suatu kelompok masyarakat yang membedakan secara nyata dari makhluk-makhluk lainnya. Peradaban juga mencerminkan kualitas kehidupan dalam masyarakat yang diukur dari kualitas ketentraman (security), kedamaian (peaceful), keadilan (justice), dan kesejahteraan (welfare) yang merata. Salah satu upaya untuk membangun tradisi keilmuan yang tinggi adalah melalui pendidikan yang bermutu. Daulat Purnama Tampubolon (2001:344) menjelaskan bahwa dengan pendidikan yang bermutu, generasi muda, khususnya para pemimpin penerus, akan mampu mengemban tanggung jawab. Semuanya itu mungkin, karena sumber daya manusia tersedia melalui pendidikan yang bermutu.

Relevansi lembaga pendidikan yang pesat dan bermutu dengan berjayanya suatu peradaban tercerminkan pada masa kejayaan Islam yang berlangsung selama lebih kurang 7 abad lamanya. Pada masa Khulafa al-Rasyidin dan masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) telah membawa perubahan besar dan membawa peradaban Islam pada masa kejayaan. Kemajuan iptek tidak lepas dari kualitas kajian dan diskusi tentang segala ilmu pada lembaga-lembaga ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti Bayt Al-Hikmah, sebuah lembaga pendidikan tinggi islam pertama kali yang telah beroperasi semenjak masa Khalifah Harun ar-Rasyid di Baghdad, Irak. Lembaga ini merupakan salah satu institusi utama dari masuknya literasi asing yang kemudian diterjemah kan kedalam bahasa Arab dan dianggap sebagai jembatan besar dalam transfer ilmu pengetahuan.

Apabila kita menarik ke era saat ini, Indonesia masih belum bisa lepas dari krisis kualitas pendidikan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kualitas pendidikan di Indonesia sangatlah buruk. Apabila kita mengambil data, menurut Survei Political and Economic Risk Consultant (PERC) kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke 12 dari 12 negara di Asia. Selain itu, data yang dilaporkan oleh program Penilaian Pelajar Internasional (Programme for International Students Assessment, PISA) pada tahun 2018, menyatakan bahwa untuk siswa berusia 15 tahun itu menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa Indonesia adalah 371 dalam membaca, matematika 379, dan sains 396. Capaian skor tersebut di bawah rerata 79 negara-negara peserta PISA, yakni 487 untuk kemampuan membaca, dan 489 untuk kemampuan matematika dan sains.

Demi tujuan mengembangkan kualitas pendidikan Indonesia, maka dibuatlah Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035. Hal tersebut merupakan ikhtiar dari Pemerintah untuk memajukan pendidikan Indonesia dengan menyiapkan cetak biru yang ajeg sampai 15 tahun ke depan. Konsep tersebut menjadi dialektika di tengah masyarakat, pro kontra mewarnai dengan segala argumen yang menyertai. Bagaimana sesungguhnya konsep pendidikan kita menjadi pertanyaan publik akhir-akhir ini. Salah satu pertanyaan yang muncul, konsep ini sebagai sebuah kebijakan atau menjadi antitesa dari kebuntuan kualitas pendidikan yang sarat administrative approach?

Dalam peta tersebut telah termuat banyak substansi dan target-target yang harus dilaksanakan sampai tahun 2035. Dengan adanya peta ini, diharapkan Indonesia mempunyai kebijakan yang konsisten mengenai pendidikan walau berganti kepemimpinan. Oleh karena itu, Oleh karena itu, Indonesian Leaders Talk edisi ke-31 akan membahas tema Peta Jalan Pendidikan: Menuju Indonesia Adil dan Makmur.

Narasumber

  1. Ki Darmaningtyas, Pakar dan Analis Pendidikan
  2. Satriwan Salim, Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G)
  3. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
  4. Rocky Gerung, Pengamat
ILT Edisi Ke-31: Peta Jalan Pendidikan: Menuju Indonesia Adil dan Makmur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *