Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-32: Partai Demokrat dan Penghancuran Demokrasi

Poster:

Eksistensi oposisi dalam demokrasi menemukan relevansinya dengan kedaulatan rakyat. Keberadaan kelompok oposisi merupakan manifestasi dari kedaulatan masyarakat untuk memiliki perbedaan sikap dan pandangan. Mereka yang berdaulat akan merespon dan mengkritik atas kebijakan-kebijakan pemerintah agar dapat sesuai dengan kepentingan mereka. Disisi lain, eksistensi kelompok oposisi merupakan akar dari konsep check and balances. Hadirnya kelompok oposisi memberikan alternatif kebijakan yang dapat menciptakan tatanan politik yang saling mengawasi dan mengimbangi.

Beberapa minggu ini ruang publik kembali dihadirkan panggung sandiwara politik yang sangat menarik untuk dibahas lebih dalam. Terjadinya kisruh dualisme Partai Demokrat yang melibatkan KSP Moeldoko yang ditunjuk secara aklamasi sebagai Ketua Umum pada Kongres Luar Biasa Partai Demokrat, belum juga menuai titik temu dan kian memanas antara kedua belah kubu. Kubu Agus Harimurti Yudhoyono dan Kubu KLB Deli Serdang belum menunjukan tanda-tanda berhenti berseteru. Kini hanyalah hukum dan pengadilan yang mampu menyelesaikan ‘dualisme’ yang terjadi pada Partai Demokrat. Konflik Demokrat pun bisa berlangsung lama, pasalnya keputusan Kemenkumham kelak bisa digugat ke pengadilan. Dalam proses yang panjang itu, keputusan yang diambil bisa menjadi beban karena akan dikaitkan dengan intervensi kekuasaan. Mengingat ada pihak yang masih memiliki jabatan strategis di Istana di konflik tersebut.

Apa yang terjadi jika Partai Demokrat mendeklarasikan dukungannya kepada pemerintah? Tentu saja oposisi akan kian lemah dan tidak berjalan fungsinya sebagai pengawal dan penyeimbang. Koalisi yang super gemuk dapat berimplikasi tak adanya halangan elite politik “berkreasi”. Implikasi kisruhnya Partai Demokrat, berujung pada munculnya wacana Amandemen kelima UUD 1945. Tentu saja wacana Amandemen UUD 1945 masih sifatnya sangat spekulatif. Namun, mengacu pada prinsip dasar ekonomi “rational people think at the margin” dimana setiap individu hanya akan melakukan atau memproduksi sesuatu apabila marginal benefit melebihi marginal cost. Apakah yang menjadi motif membentuk koalisi super gemuk ini? Indonesia Leaders Talk edisi ke-32 akan membahas tema Partai Demokrat dan Penghancuran Demokrasi.

Narasumber

  1. Firman Noor, Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI
  2. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
  3. Rocky Gerung, Pengamat
ILT Edisi Ke-32: Partai Demokrat dan Penghancuran Demokrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *