Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-34: 2024 Capres Muda?

ILT Edisi Ke-34: 2024 Capres Muda?

Pemuda merupakan kelompok demografi yang signifikan dalam lanskap politik Indonesia, terlebih di tahun 2024. Kelompok penduduk usia 15-19 dan 20-24 menduduki kelompok usia dengan jumlah terbanyak dibanding dengan kelompok usia lain pada tahun 2024. Tidak ayal bila pemuda dalam pemilu berikutnya merupakan kelompok penentu di dalam sirkulasi kepemimpinan nasional. Di sisi lain, pemuda dianggap mempunyai keyakinan yang labil dan dapat dipengaruhi dengan mudah. Hal ini membuat preferensi politik pemuda sulit untuk diprediksi dan ditebak.

Sistem pemilihan presiden secara langsung yang sudah kita laksanakan memang secara eksplisit menempatkan rakyat sebagai penentu keterpilihan capres dan cawapres dalam pemilu, yang harapannya dapat mengurangi transaksional politis elit-elit partai politik apabila masih menganut sistem tidak langsung. Selain itu, dengan menggunakan sistem pemilihan presiden secara langsung seharusnya mendorong lahirnya kompetisi dan kaderisasi partai politik yang baik. Namun, pada prakteknya dampak positif atas pelaksanaan mekanisme pilpres secara langsung belum terwujud. Adanya aturan yang kita buat secara khusus menyebabkan partai politik pengusung terjebak dalam pusaran pragmatisme yang pada akhirnya mencederai kontestasi dalam pilpres itu sendiri.

Persoalan kandidasi yang elitis dan koalisi yang pragmatis inilah nampaknya akan menjadi masalah pelik yang menghantui pemilihan presiden dan wakil presiden di tahun 2024. Hal ini dapat mengancam kehidupan berpolitik yang sehat dan demokratis di Indonesia. Namun untuk melihat akar persoalannya sejatinya terletak pada penerapan ambang batas presiden atau presidential threshold yang menjebak partai-partai politik dalam pusaran koalisi transaksional dan merusak kaderisasi partai politik dalam mengusung kandidat presiden.

Signifikansi jumlah pemuda di dalam populasi penduduk Indonesia kiranya belum tentu dapat memunculkan poros politik tertentu pada pemilihan presiden. Hal ini menyangkut mengenai kekuatan politik dari pemuda dan urgensi calon pemimpin dari kelompok tersebut. Perlukah calon pemimpin dari kelompok pemuda? Pemimpin dari kelompok pemuda tentunya memberikan harapan terkait kepentingan politik dari kelompoknya. Bila pemimpin dari kelompok ‘tua’ dianggap tidak dapat mewakili kepentingan pemuda, maka opsi pemimpin muda adalah opsi untuk mewakilkan kepentingannya sendiri. Kepentingan tersebut beragam mulai dari ketersediaan pekerjaan di masa depan, hunian yang layak, ekspresi budaya, dsb.

Kandidasi elitis dan koalisi pragmatis yang seharusnya disingkirkan guna menyehatkan kontestasi politik, sedianya dapat dihindari dengan mengubah aturan-aturan yang menghambatnya. Permasalahan yang berakar pada UU Pemilu dan pemilihan kandidat yang tidak inklusif mematikan calon-calon pemimpin muda yang memiliki potensial dan rekam jejak yang baik. Seperti munculnya tiga nama calon presiden 2024 dari Survei Indikator, yaitu Anies Baswedan, Ridwan Kamil, dan Ganjar Pranowo. Akankah pemimpin muda dapat berkompetisi dalam sirkulasi kepemimpinan nasional? Melihat jumlah pemilih muda yang juga tumbuh signifikan, nampaknya kita perlu menaruh harap pada calon-calon pemimpin muda untuk terlibat dalam sirkulasi kepemimpinan nasional. Oleh karena itu, Indonesia Leaders Talk edisi ke-34 kali ini mencoba membahas “2024 Capres Muda”

Narasumber

  1. Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik
  2. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
  3. Rocky Gerung, Pengamat
ILT Edisi Ke-34: 2024 Capres Muda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *