Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-39 : Ramadhan dan Inovasi Bangsa

ILT Edisi Ke-39 : Ramadhan dan Inovasi Bangsa

Pentingnya peran riset dan pengembangan (R&D) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi telah memunculkan teori pertumbuhan baru yang dikenal sebagai teori pertumbuhan ekonomi endogen (endogenous growth theory). Theodore Schulz, pemenang Nobel Prize tahun 1979, yang mengkritik teori-teori pertumbuhan neoklasik, mengatakan bahwa “in retrospect it seems odd that early growth models treated technology as exogenous. Most economists now agree that almost all technical change is endogenous” (Edwards.2007). Ungkapan tersebut menyatakan bahwa peran perubahan teknologi merupakan suatu faktor endogen, yang pada akhirnya menyebabkan pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan daya saing internasional. Oleh karena itu, berbagai negara maju seperti US, China, Jepang, dan Eropa berusaha meningkatkan pengeluaran fiskal nya untuk membiayai  R&D.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa peran riset dan pengembangan (R&D) merupakan motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi dan produktivitas di seluruh aspek ekonomi. Pentingnya peran R&D yang mengkatalis keberhasilan Korea Selatan menjadi macan Asia pada tahun 70an. Pada tahun 60an pasca perang korea berkecamuk, Pemerintah Korea selatan menerapkan kebijakan industri pemerintah yang proaktif memberikan bantuan langsung seperti fiskal dan finansial insentif, serta dukungan tidak langsung seperti promosi industri khusus dan dukungan infrastruktur. Hasil dari kebijakan tersebut peningkatan share terhadap output pada sektor Heavy and Chemical Industries (HCI) yang meningkat pesat dari 23% di tahun 1960 menjadi 54 % di tahun 1980, dan 79% di tahun 2002 (Mah. Jai,s. 2007)

Bagaimana kebijakan penelitian dan pengembangan di Indonesia? Tidak bisa dipungkiri bahwa riset dan inovasi di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Menurut laporan Global Innovation Index, Indonesia berada peringkat ke-85 dari 129 negara di dunia, dan peringkat kedua terendah di ASEAN. Apabila melihat dana riset pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia baru menyentuh angka 0,25 %  dari PDB, yang dimana 84 %  dari sumber anggaran tersebut berasal dari anggaran pemerintah. Hanya 8 % nya berasal dari swasta atau industri. Apabila dibandingkan dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang mereka tidak segan menggelontorkan dana riset lebih dari 2 %  dari total PDB.

Selain dari segi anggaran, dari sisi jumlah peneliti indonesia masih sangat tertinggal. Apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga di wilayah Asia Tenggara seperti Vietnam, Jumlah peneliti Indonesia hanya 89 orang per satu juta penduduk. Sementara dengan Vietnam yang jumlah penelitinya 674 per satu juta penduduk. Rendahnya jumlah peneliti di Indonesia berasal dari minimnya jumlah tenaga kerja di Indonesia yang lulusan perguruan tinggi. Dari data BPS, tenaga kerja lulusan sekolah dasar (SD) mendominasi pangsa tenaga kerja Indonesia.Selama 2014 hingga 2018, setidaknya seperempat dari tenaga kerja merupakan lulusan SD.

Beberapa pekan lalu Pemerintah bersama DPR memutuskan meleburkan Kemenristek dan memasukkan fungsinya ke dalam Kementerian Pendidikan (Kemendikbud). Menurut Yanuar Nugroho, peleburan BRIN dan Kemendikbud akan membutuhkan waktu lama menyelesaikan tahapan-tahapan administrasi, pembentukan lembaga, serta keuangannya. Oleh karena itu, sebagai upaya kebijakan riset dan inovasi pemerintah,  Indonesia Leaders Talk edisi ke-39 kali ini mencoba membahas “Ramadhan dan Inovasi Bangsa”

Narasumber

  1. Bahtiar Rifai, Peneliti Bidang Keuangan dan Perbankan LIPI
  2. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
  3. Rocky Gerung, Pengamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *