Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-44: Saatnya Bicara Kriteria Capres 2024

ILT Edisi Ke-44: Saatnya Bicara Kriteria Capres 2024

Berbicara mengenai pemilihan presiden, tidak melulu hanya seputar aspek prosedural, seperti persoalan presidential threshold, mekanisme voting, koalisi antar partai, dll. Jarang sekali kita membahas pemilihan presiden dari sudut pandang sang pemilih, yaitu preferensi masyarakat atau pemilih pada pemilihan presiden. Persoalan preferensi terhadap calon presiden dan wakil presiden sangatlah penting, karena apabila preferensi tersebut tidak mampu dihadirkan oleh calon presiden dan wakil presiden, maka akan berdampak langsung pada partisipasi politik masyarakat.

Dari sisi tolok ukur masyarakat mengidentifikasi preferensi terhadap partai atau calon presiden yang akan dipilih terdapat 3 pendekatan, yaitu pendekatan sosiologis, psikologis, dan rasional. Dari aspek sosiologis, pendekatan ini menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan pengelompokan sosial mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap preferensi politik masyarakat. Dalam arti lain, kecocokan ideologis antara pemilih dengan partai politik atau kandidasi pemilu merupakan faktor penting dalam menentukan pilihan politik.

Berbeda dengan pendekatan sosiologis, pendekatan psikologis pertama kali dikembangkan oleh Research Centre di Universitas Michigan, yang kini dikenal sebagai Mazhab Michigan. Pendekatan ini menitikberatkan pada sikap seseorang sebagai refleksi dari kepribadian seseorang merupakan variabel yang cukup menentukan dalam mempengaruhi perilaku politik seseorang. Oleh karena itu, pendekatan psikologis menekankan pada tiga aspek psikologis, yaitu ikatan emosional pada suatu partai politik, orientasi terhadap isu-isu dan orientasi terhadap kandidat.

Terakhir, pendekatan rasional menjelaskan perilaku politik masyarakat yang basisnya adalah teori-teori ekonomi. Apabila secara ekonomi masyarakat dapat bertindak secara rasional, yaitu melakukan sesuatu apabila marginal benefit lebih besar dibandingkan marginal cost, maka perilaku politik masyarakat akan dapat bertindak secara rasional, yakni memberikan suara ke partai politik yang mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya dan menekan kerugian. Dalam konteks pendekatan rasional, pemilih tidak hanya menitikberatkan pada hal-hal yang bersifat ideologis, melakukan kalkulasi ekonomi terhadap kandidasi yang memberikan pengembalian terbanyak.

Dalam pemilihan presiden, sejatinya banyak variabel-variabel yang perlu diperhitungan oleh partai politik untuk mengusung kandidat yang akan berkontestasi. Namun, perlu dipastikan bahwa, kandidasi yang diusung harus memiliki tolak ukur yang sesuai dengan preferensi masyarakat dan ideologi partai politik. Sudah seharusnya persoalan kandidasi pemilihan presiden bersifat kompetitif dan menjaring calon-calon terbaik yang ditempa dalam institusi partai politik. Inilah yang merupakan esensi dari partai politik adalah kaderisasi dan pembinaan. Namun, Persoalan kandidasi yang elitis dan koalisi yang pragmatis inilah tampaknya akan menjadi realita pahit yang menghantui pemilihan presiden dan wakil presiden di tahun 2024. Selama ambang batas masih sangat tinggi, maka pada tahun 2024 nanti, kemungkinan akan kembali mengulang dimana pemilihan presiden hanya terbatas pada 2 calon. Oleh karena itu, Indonesia Leaders Talk edisi ke-44 kali ini mencoba membahas “Saatnya Bicara Kriteria Capres 2024”

Narasumber

(1) Firman Noor, Kepala P2 Politik LIPI
(2) Eep Saefulloh, CEO PolMark Indonesia
(3) Rocky Gerung, Pengamat
(4) Mardani Ali Sera, Anggota DPR RI Fraksi PKS

Moderator: Haldi Panjaitan

ILT Edisi Ke-44: Saatnya Bicara Kriteria Capres 2024

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *