Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-47: Kelas Mengah dan Kekuatan Politik Akal Sehat

ILT Edisi Ke-47: Kelas Menengah dan Kekuatan Politik Akal Sehat

Indonesia kini dapat dianggap sebagai salah satu negara berkembang yang berpeluang untuk menghindari kutukan sumber daya alam atau resource curse. Di banyak negara-negara berkembang lainnya, alih-alih sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, keberlimpahan sumber daya justru identik dengan stagnasi pertumbuhan ekonomi (Arfani, R. N.2014).  Dalam satu dekade terakhir, hingga tahun 2019, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang stabil pada tingkat 4.9%-5.3%. Keberhasilan Indonesia tersebut disebabkan oleh segudang faktor yang kompleks, seperti besarnya permintaan domestik, struktur demografis, dan pesatnya urbanisasi, sehingga perekonomian Indonesia mampu berkembang meskipun tanpa bergantung pada ekspor (ADB.2019).

Pada tahun 2019, Indonesia resmi menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas dengan gross national income (GNI) per capita menjadi US$ 4050. Ini menunjukan bahwa secara ekonomi, Indonesia berhasil menurunkan persentase penduduk miskin dan rentan, serta “kelas menengah” tumbuh 10 persen per tahun dalam kurun waktu 2002 hingga 2016 (World Bank. 2018). Dalam penelitian World Bank, kelompok “kelas menengah” tersebut merupakan mereka yang pengeluaran per kapitanya per hari adalah 7,5 – 38 dolar AS per hari. Namun bukan definisinya yang patut untuk diperhatikan, melainkan kerentanan kelompok kelas menengah di Indonesia terhadap gejolak ekonomi. Hanya 50 persen dari mereka yang telah menjadi “kelas menengah” pada tahun 2000, mampu bertahan sebagai “kelas menengah” pada tahun 2014. Sedangkan 40 persen sisanya turun menjadi Aspiring Middle Class, dan 10 persen lagi. malah kembali menjadi miskin atau rentan kemiskinan pada tahun 2014. Oleh karena itu, dari sisi ekonomi pemerintah perlu lebih memperhatikan kelas menengahnya dengan paket kebijakan yang tepat agar tidak jatuh ke jurang kemiskinan.

Dari sisi sosial politik, eksistensi kelas menengah merupakan kekuatan pendorong (driving force) terhadap pembangunan di suatu negara. Dawam Raharjo (1999) mengungkapkan mengapa kelompok kelas menengah sangatlah penting, karena memiliki hubungan kausal dengan demokrasi. Hadirnya kelompok kelas menengah yang merupakan masyarakat terdidik dan memiliki pendapatan lebih baik, memfokuskan atensinya ke isu-isu seputar kebebasan, hak asasi manusia, rule of law, dan sebagainya. Mereka merupakan kelas yang tercerahkan, baik secara kesadaran politik maupun rasionalitas, sebagai kekuatan politik ekstraparlementer.

Secara historis kelas menengah Indonesia merupakan kelompok masyarakat yang selalu mengambil peran dalam konstelasi politik dan sosial di negara ini . Hal tersebut tercerminkan melalui munculnya berbagai macam gerakan politik sejak era pergerakan nasional, revolusi kemerdekaan, hingga era reformasi, yang diprakarsai oleh kelas menengah di Indonesia (Jati. W, R 2015). Seperti misalnya, dari generasi tahun 1920-28 yang ditandai dengan munculnya kelompok Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda yang merupakan bagian kelompok menengah terpelajar, bahkan elitis. Adapun gerakan demonstrasi 98’  yang memperjuangkan prinsip-prinsip demokrasi oleh aktivis mahasiswa yang juga merupakan kelompok menengah ke atas (Jati. W, R 2017).

Berdasarkan uraian diatas, dapat kita simpulkan bahwa selama ini peran kelas menengah di Indonesia merupakan salah satu aktor yang sangat penting bagi pembangunan negara. Sampai dengan tahun 2030-an, Indonesia mengalami masa transisi dimana penduduk produktif semakin banyak jumlahnya jika dibandingkan dengan yang tidak produktif, atau dikenal sebagai istilahnya bonus demografi. Apabila mengacu pada proyeksi Bank dunia, Indonesia berpotensi mencapai 115 juta atau 45% populasi. Oleh karena itu, kedepannya pemerintah Indonesia perlu betul-betul memanfaatkan momentum ini dengan kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada penyediaan barang publik penting untuk pembangunan ekonomi. Termasuk barang publik ini adalah pendidikan masyarakat, pelayanan kesehatan masyarakat, dan infrastruktur fisik. Oleh karena itu, Indonesia Leaders Talk kali ini mencoba membahas “Kelas Menengah dan Kekuatan Politik Akal Sehat”

Narasumber

  1. Hurriyah, Dosen FISIP UI
  2. Mardani Ali Sera, Politisi PKS
  3. Rocky Gerung, Pengamat

Moderator: Haldi Panjaitan

ILT Edisi Ke-47: Kelas Menengah dan Kekuatan Politik Akal Sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *