Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-49: Pandemi dan Kualitas Pemimpin

ILT Edisi Ke-49: Pandemi VS Kualitas Pemimpin

Pemimpin yang sesungguhnya akan benar-benar diuji dalam kondisi krisis. “Seorang
pemimpin adalah pemberi harapan.” begitu kata Napoleon Bonaparte. Pandemi COVID-19
memiliki ciri khas sebagai krisis “landscape-scale” atau berskala luas yang dapat dimaknai
sebagai peristiwa tidak terduga yang terjadi dengan kecepatan luar biasa. Maka dari itu
dibutuhkan sosok pemimpin yang memiliki keahlian dalam crisis leadership. Crisis leadershipdapat diartikan sebagai sebuah kemampuan untuk membuat seluruh pihak beradaptasi dengan ketidakpastian dengan cara membuat titik tengah untuk melaksanakan perintah dan kontrol sehingga masing-masing pihak dapat berhubungan, berkolaborasi, dan berkoordinasi satu sama lain untuk menghasilkan nilai bagi masyarakat (Pfeifer, 2013).


Variabel kepemimpinan ini bukanlah abstraksi atau konsepsi yang sumir. Ia jelas jadi
salah satu variabel penentu kesuksesan sebuah negara atau wilayah dalam menangani covid-19. Pernyataan “semua negara kesulitan menghadapi covid-19” adalah hal yang benar di satu sisi, namun “beberapa negara berhasil mengontrol covid-19” adalah kebenaran di sisi yang lain. Pada bulan Februari beberapa kepala negara, yang punya visi yang baik, sudah melihat bahaya Covid-19. Misalnya Angela Merkel, Kanselir Jerman, dan Jacinda Ardern, PM Selandia Baru. Mereka mengeluarkan kebijakan preventif yang pada saat itu dinilai ‘aneh’, Merkel menutup sekolah, toko retail dan melakukan restriksi pada awal Maret. Sebuah kebijakan yang ‘aneh’ mengingat kasus positif di Jerman tidak terlalu tinggi pada saat itu. Jacinda di sisi lain berani melakukan lockdown di negaranya pada saat kasus positif hanya 102 tanpa ada orang yang meninggal. Kebijakan mereka awalnya dianggap tidak biasa, namun toh banyak negara yang kemudian mengambil sikap yang sama karena tidak melihat ada opsi yang lebih baik. Dalam hal ini visi dan kepemimpinan seorang kepala negara berpengaruh dalam mengatasi krisis.


Hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin yakni menyadari bahwa
negara sedang menghadapi krisis. Untuk mengantisipasi ancaman potensial dari krisis yang
berkembang, pemimpin perlu menekan bias kenormalan yang dapat menyebabkan mereka
meremehkan kemungkinan maupun dampak yang dapat dihasilkan. Ketika pemimpin menyadari terjadinya krisis, mereka dapat memulai memikirkan bagaimana merespon peristiwa tersebut. Dalam krisis terdapat banyak ketidakbiasaan dan ketidakpastian, perlu dilakukan penyesuaian besar untuk memberikan respon secara efektif. Hal yang dibutuhkan oleh para pemimpin saat terjadi krisis bukanlah penanganan yang telah terencana sebelumnya, melainkan perilaku dan pola pikir yang dapat mencegah reaksi yang berlebihan terhadap krisis dan bagaimana menghadapi tantangan ke depan.

Indonesia kini sedang dilanda lonjakan Varian baru Pandemi Covid-19 yang mencapai
rekor tertingginya sejak pemerintah mengumumkan kasus pandemi Maret 2020. Per tanggal 7 Juli 2021, terjadi penambahan 34.379 kasus baru dan 1.040 kasus kematian. Tentu rekor ini bukanlah pencapaian yang harus dibanggakan, melainkan teguran bagi kita semua bahwa Indonesia masih mengalami darurat Pandemi Covid-19. Akibat lonjakan ini, keterisian (okupansi) tempat tidur rumah sakit, maupun ICU sudah hampir terisi penuh. Di Jakarta sebagai salah satu wilayah zona hitam, okupansi di Rumah Sakit Rujukan Covid-19 telah mencapai 90% telah terpakai. Tentu ini menandakan apabila tidak dilakukan keseriusan menangani lonjakan kasus Pandemi Covid-19, maka yang dikhawatirkan adalah kolapsnya fasilitas kesehatan nasional, yang tidak dapat menampung Pasien Covid-19.

Kendati demikian, Pemerintah telah menerapkan kebijakan Pemberlakukan Pembatasan
Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali. Di kota besar seperti Jakarta, PPKM Darurat mampu menurunkan 21 – 25% pergerakan masyarakat. Namun, target dari penurunan mobilitas masih sangat jauh dari harapan Pemerintah, dimana dibutuhkan hingga 50% untuk menekan penyebaran Covid-19 varian delta.Apakah Kebijakan PPKM Darurat telah berhasi mengendalikan penyebaran varian baru Covid-19? Apakah Pemerintah telah tepat menentukan kebijakan penanganan pandemi? Untuk membahas pertanyaan tersebut, Indonesia Leaders Talk pekan ini akan membahas topik “Pandemi vs Kualitas Pemimpin”

Narasumber
1. DR. Ede Surya D. (Akademisi, Ketua Umum IAKMI)
2. Mardani Ali Sera (Politisi PKS)
3. Rocky Gerung (Pengamat)

Moderator: Haldi Panjaitan

ILT Edisi Ke-49: Pandemi VS Kualitas Pemimpin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *