Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-52: Menatap Indonesia ke Depan: Kisah Diaspora Lintas Negara

ILT Edisi Ke-52: Menatap Indonesia Ke Depan

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, semarak kerjasama internasional dan globalisasi
mulai digencarkan oleh negara-negara pemenang perang. Globalisasi dalam tulisan ini merujuk proses globalisasi yang terjadi sebagai akibat revolusi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan transportasi sejak tahun 1990-an. Globalisasi sering dipahami sebagai proses menipisnya batas-batas negara, karena dunia semakin terkoneksi/terintegrasi dan interdependensi antar negara semakin tinggi.

Indikator kunci dari globalisasi adalah peningkatan yang cepat dalam segala
perpindahan/aliran, dimulai dari aliran uang dan perdagangan, tetapi juga nilai-nilai demokrasi, produk kultural dan media, dan yang paling penting dalam konteks migrasi penduduk adalah aliran orang. Globalisasi membuka akses sarana-prasarana transportasi yang seluas-luasnya, sehingga memudahkan penduduk untuk pergi ke wilayah yang lebih jauh dari sebelumnya dengan biaya yang terjangkau. Revolusi teknologi dan
transportasi tersebut telah menurunkan biaya migrasi secara signifikan sehingga
mempermudah dan mempercepat migrasi penduduk hingga wilayah yang jauh.

Pergerakan migrasi yang semakin cepat dan mendunia inilah yang menjadi cikal bakal
terjadinya diaspora suatu negara. Negara-negara penerima imigran semakin diwarnai oleh
migran dari berbagai negara dengan latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya yang semakin beragam. Di negara tujuan, sebagian imigran membentuk jaringan dengan sesama imigran maupun negara asal dalam rangka mewujudkan kehidupan yang sejahtera ekonomi, sosial, kultural, dan politik, dalam menjalani kehidupan transnasional.

Di Indonesia, istilah diaspora mulai hangat diperbincangkan sejak diselenggarakannya Kongres Diaspora Indonesia (KDI) 2012 yang mendorong berdirinya Indonesian Diaspora Network (IDN). IDN ini berangkat dari kepercayaan atas besarnya potensi bangsa Indonesia
yang tersebar di seluruh dunia. Potensi ini berupa remitansi, peluang bisnis, transfer
pengetahuan, hingga membangun negeri melalui keterampilan profesional. Sasaran potensi diaspora yang dimaksudkan mencakup berbagai bidang khususnya teknologi, informasi dantransportasi dipandang penting pada pembangunan negara.

Pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan potensi yang bisa dijembatani dan dimanfaatkan oleh bangsa kita, seperti transfer keahlian dan pengetahuan. Para diaspora
Indonesia di luar negeri bersentuhan langsung dengan pengembangan teknologi saat ini dengan memanfaatkan fasilitas dari beragam institusi maupun perusahaan. Oleh karena itu, sudah seyogyanya melakukan transfer teknologi dan keahliannya untuk kepentingan bangsa Indonesia.

Kisah inspiratif masyarakat diaspora Indonesia yang baru-baru ini ramai di ruang publik adalah Indra Rudiansyah, Mahasiswa doktoral Program Clinical Medicine University of Oxford, yang terlibat dalam penelitian vaksin AstraZeneca untuk Covid-19. Selain Indra, tokoh diaspora Indonesia yang sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat adalah Anggun Cipta Sasmi, penyanyi Indonesia yang sukses berkiprah di luar negeri, dan berhasil meraih berbagai macam penghargaan. Indra dan Anggun merupakan dua dari jutaan masyarakat diaspora Indonesia yang memiliki potensi besar terhadap pembangunan Indonesia dengan berbagai macam keahlian-keahlian. Namun, Menurut Ahmad Jazuli (2017), saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 8 juta orang yang bermukim di luar negeri. Namun, masyarakat imigran Indonesia di luar sana masih mengalami masalah-masalah yang sering ditemukan antara lain: belum optimalnya pendekatan dan perhatian secara sistematis dan komprehensif dari Pemerintah Indonesia; Diaspora Indonesia ibarat ‘thousands of connected dots’ yang seringkali diwarnai dengan minimnya hubungan dengan tanah air yang pada gilirannya menjadi suatu komunitas penuh potensi namun lemah koneksi, dan masih kurang diperhitungkannya Diaspora Indonesia di sejumlah negara. Oleh karena itu, Indonesia Leaders Talk edisi 52 akan membahas “Menatap Indonesia ke Depan: Kisah Diaspora Lintas Negara”

Narasumber
(1) Mohamad Yusup (Perawat, RS Kawakita General Hospital, Tokyo)
(2) Basirudin Rachman (Konsultan Software, Mahasiswa Master, Dhahran, Arab Saudi)
(3) Teguh Iskanto (Praktisi Cyber Security & Volunteer pada Indonesian Muslim Community
of Victoria)
(4) Dian N. -Gerharz (Alumni UNJ, Praktisi Pendidikan di Jerman sejak 2013)
(5) Mardani Ali Sera (Politisi PKS)
(6) Rocky Gerung (Pengamat)

Moderator: Haldi Panjaitan

ILT Edisi Ke-52: Menatap Indonesia Ke Depan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *