Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-69: Peran Negara Dalam Meningkatkan Pendapatan Rakyat

ILT Edisi Ke-69: Peran Negara Dalam Meningkatkan Pendapatan Rakyat

Mengawali langkah periode keduanya, Presiden Joko Widodo membuka lembar
kepemimpinannya dengan penyampaian pidato kebangsaan yang kental dengan optimisme.
Presiden Joko Widodo memaparkan cita-cita besar bagi bangsa Indonesia sebagai negara maju di
2045, yaitu dengan pendapatan perkapita Rp. 320 Juta per tahun atau Rp. 27 Juta per bulan, PDB
mencapai 7 triliun USD menempatkan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar
ke 5 dunia, dan tingkat kemiskinan yang mendekati nol persen (Dewi, Ratia K. 2019). Dengan
cita-cita besar tersebut harapannya indonesia mampu keluar dari
Middle Income Trap dan dapat
disegani sebagai bangsa yang besar.

Namun, di tengah perjalanan kepemimpinan Jokowi, Indonesia diuji dengan hadirnya
krisis ekonomi yang disebabkan oleh Pandemi Covid-19. Pandemi tersebut telah
meluluhlantakkan kondisi, serta menyebabkan guncangan permintaan (demand shock) dan
guncangan penawaran (supply shock). Restriksi mobilitas guna mengurangi penyebaran virus,
membuat perekonomian Indonesia terkontraksi sebesar minus 2,07 persen (c-toc). Selain itu,
terjadi peningkatan angka kemiskinan sebesar 1,12 juta orang, serta meningkatkan ketimpangan
sebesar 0,004 poin sepanjang tahun 2020.

Upaya untuk mencapai Indonesia sebagai negara maju 2045 dan mencapai sustainable
development goal
tidak bisa menggunakan cara-cara yang normatif. Diperlukan keberanian dan
gebrakan mutakhir untuk bisa mencapai harapan tersebut. Lantas bagaimana suatu negara dapat
memiliki pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan? Bagaimana suatu negara dapat keluar dari
middle income trap? Satu-satunya jalan adalah harus mengandalkan innovation dan knowledge,
bukan hanya sumber daya alam atau bahkan kapital saja.

Dalam Pertumbuhan endogen, tabungan dan investasi bisa mendorong pertumbuhan
ekonomi berkesinambungan. Namun, dalam teori ini, menjelaskan peranan ilmu pengetahuan
secara lebih luas lagi dan memasukkannya sebagai faktor endogen. Paul Romer menjelaskan tiga
elemen dasar dalam pertumbuhan endogen, yaitu perubahan teknologi yang bersifat endogen

melalui sebuah proses akumulasi ilmu pengetahuan, ide-ide baru oleh perusahaan sebagai akibat
dari mekanisme luberan pengetahuan (knowledge spillover), dan produksi barang-barang
konsumsi yang dihasilkan oleh faktor produksi ilmu pengetahuan akan tumbuh tanpa batas
(Edwards.2007).

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa peran riset dan pengembangan
(R&D) merupakan motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi dan produktivitas di seluruh
aspek ekonomi. Pentingnya peran R&D yang mengkatalis keberhasilan Korea Selatan menjadi
macan Asia pada tahun 70an. Pada tahun 60an pasca perang korea berkecamuk, Pemerintah
Korea selatan menerapkan kebijakan industri pemerintah yang proaktif memberikan bantuan
langsung seperti fiskal dan finansial insentif, serta dukungan tidak langsung seperti promosi
industri khusus dan dukungan infrastruktur. Hasil dari kebijakan tersebut peningkatan share
terhadap output pada sektor Heavy and Chemical Industries (HCI) yang meningkat pesat dari
23% di tahun 1960 menjadi 54 % di tahun 1980, dan 79% di tahun 2002 (Mah. Jai,s. 2007)
Melihat Korea selatan memiliki keunggulan komparatif di bidang industri strategis, pada
tahun 1980 an, arah kebijakan industri berubah. Pemerintah Korea mulai memahami pentingnya
penelitian dan Pengembangan (R&D) dalam pembangunan ekonomi. Pemerintah memberikan
dukungan pengembangan R&D pada beberapa sektor strategis yang dapat menjamin
pertumbuhan ekonomi jangka panjang, seperti otomotif, perkapalan, dan pesawat berukuran
kecil (Mah. Jai,s. 2007) kisah-kisah inilah yang mendorong Korea Selatan sebagai salah satu
negara industri terbesar di dunia, serta negara dengan pendapatan perkapita negara maju.
Indonesia sebetulnya dapat mencontoh negara-negara yang telah berhasil mengandalkan
teori pertumbuhan endogen untuk mencapai sustainable growth. Dengan pertumbuhan yang
berkelanjutan, turunannya adalah meningkatnya pendapatan masyarakat dan kesejahteraan secara
keseluruhan. Oleh karena itu, sebagai upaya untuk memberikan solusi konkrit, Indonesia
Leaders Talk edisi kali ini mencoba membahas
“Peran Negara dalam Meningkatkan
Pendapatan Rakyat”

Narasumber:
1. Dr. Zulkieflimansyah –  Gubernur NTB
2. Dr. Tauhid Ahmad –  Direktur Eksekutif Indef
3. Zenzi Suhadi – Direktur Eksekutif WALHI
4. Mardani Ali Sera – Politisi PKS
5. Rocky Gerung – Pengamat

ILT Edisi Ke-69: Peran Negara Dalam Meningkatkan Pendapatan Rakyat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *