Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-71: “PANDEMI DAN KREASI ANAK MUDA”

ILT Edisi Ke-71: Pandemi dan Kreasi Anak Muda

Kondisi Pandemi Covid-19 menyebabkan sebuah fenomena baru dalam kehidupan
masyarakat. Terciptanya regulasi baru yang membatasi pergerakan mobilitas masyarakat dan
social distancing demi mencegah penyebaran Covid-19 membuat masyarakat Indonesia merasa
penat dan berusaha mencari cara untuk mengatasi rasa tersebut. Bagi generasi milenial yang
cenderung suka berkelompok, terhubung satu sama lain, dan suka bermain dengan teman
sebayanya, membutuhkan cara-cara yang kreatif untuk tetap menghindari kejenuhan di masa
pandemi.
Salah satu contoh misalnya dengan penggunaan sosial media sebagai wadah ekspresi
kreativitas mereka. Selama pandemi berlangsung, menurut Data Social-Hootsuite pada Januari
2021 mengungkapkan pengguna internet di Indonesia tumbuh 15,5 persen atau sebesar 27 juta
orang selama pandemi. Sementara pengguna media sosial aktif ikut tumbuh 6,3 persen atau 10
juta orang. Salah satu media sosial yang paling digemari kelompok milenial Indonesia adalah
TikTok dengan peningkatan 3 kali lipat semenjak pandemi berlangsung. Tepatnya April 2020,
pengguna TikTok hanya mencapai 37 juta pengguna. Kini Per Juli 2021, pengguna TikTok di
Indonesia mencapai angka 92,2 juta pengguna.
Selain itu, kreativitas kelompok muda juga diperlukan dalam hal kontrol masyarakat dan
pemerintah. Hadirnya pandemi yang memberikan ruang lingkup terbatas untuk penyampaian
aspirasi secara langsung tidak membuat para mahasiswa dan pemuda gentar dalam memberikan
pendapatnya. Seperti contoh, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) yang
beberapa bulan lalu membuat heboh se-Indonesia dengan kritikannya menohok. BEM UI
mengunggah meme Pak Jokowi sebagai ‘The King of Lip Service’ karena ucapannya dan realita
di lapangan saling kontradiksi. Beberapa pengamat mengatakan bahwa inilah aktivisme
mahasiswa gaya baru yang mengkombinasikan sarkasme/satire dengan kreativitas mahasiswa.
Banyak sekali contoh-contoh kreativitas pemuda baru yang bermunculan di era Pandemi
Covid-19. Seolah-olah bukan berarti hambatan mobilitas sosial, menghambat mengalirnya ide
dan gagasan. Menjadi pertanyaan selanjutnya adalah seberapa penting kreativitas dimiliki oleh
para pemuda? Berdasarkan “The Future of Jobs Report 2020” World Economic Forum,
setidaknya terdapat 20 skill yang dibutuhkan baik hal pekerjaan, industri, seni, dan lainnya. Di
urutan pertama skill yang paling dibutuhkan adalah creativity, originality, and initiative,
diidentifikasi sebagai keterampilan dengan kebutuhan tertinggi. Kemudian disusul oleh complex
problem solving dan active learning di urutan kedua dan ketiga. Oleh karena itu, skill kreativitas
dan inovasi perlu ditanamkan kepada seluruh anak muda Indonesia karena keterampilan inilah
yang paling berpengaruh di era saat ini.
Lalu apakah yang menjadi tantangan penerapan keterampilan tersebut? Menurut
Musbikin (2007) mengemukakan beberapa faktor yang dapat menghambat perkembangan
kreativitas anak, yaitu tidak adanya dorongan bereksplorasi, jadwal yang terlalu ketat, disiplin
otoriter, over protektif, melarang untuk berkhayal dll. Musbikin juga menitikberatkan pada faktor
lingkungan yang sangat mempengaruhi pikiran kreatif dan inovatif anak.
Sangatlah penting memiliki keterampilan kreativitas dan inovasi agar mampu berdaya
saing di era. Namun, kreativitas dan inovasi dipengaruhi oleh berbagai macam variabel, mulai
dari lingkungan, sekolah, teman, orang tua, fasilitas, dan lainya. Untuk mengupas lebih dalam
lagi tentang kreativitas anak muda, Indonesia Leaders Talk edisi kali ini akan membahas seputar
“Pandemi dan Kreasi Anak Muda”

Narasumber
(1) Taufik Yuniarto (Ipotsky, Founder Komunitas Liqomik)
(2) Amalia Dian R. (Founder Peduli Jilbab, Owner Jilbab Walimah)
(3) Mardani Ali Sera (Politisi PKS)
(4) Rocky Gerung (Pengamat)

ILT Edisi Ke-71: “Pandemi dan Kreasi Anak Muda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *