Indonesia Leaders Talk Edisi Ke-73: “Muktamar NU dan Konstelasi Politik Nasional”

ILT Edisi Ke-73: Muktamar NU dan Konstelasi Politik Nasional

Di usia ke-96, NU menggelar Muktamar Ke-34 di Provinsi Lampung. Muktamar Ke-34
ini harus menjadi momentum dalam penguatan organisasi dalam menatap seabad NU pada 31
Januari 2026. Satu abad penting karena sebagai titik pijakan historis baru dari organisasi ini,
yang tentu berbeda situasi dan tantangan saat didirikan. Kecepatan informasi, perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi kerakyatan, dan masyarakat yang berubah secara
cepat ialah beberapa dari sekian tantangan dalam usia satu abad. Kebutuhan nahdiyin ke depan
tidak lagi melulu soal agama, tetapi juga mengenai ekonomi, teknologi, dan berbagai kebutuhan
dasar lainnya. Karena itu, sumbangsih dari para tokoh nahdiyin dari berbagai disiplin ilmu di
berbagai belahan dunia sangat dibutuhkan NU. Apa pun hasil muktamar nanti harus mampu
menjawab tantangan tersebut.
NU memiliki peran yang begitu besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia
dan mempertahankan keutuhan NKRI. Dalam sejarahnya, paling tidak ada tiga alasan besar yang
melatarbelakangi lahirnya organisasi ini, yakni motif agama, motif mempertahankan paham ahlu
al-sunnah waljamaah, dan terakhir ialah motif nasionalisme. Keberadaan NU, sejak awal
didirikan dan hingga kini, telah memberikan warna dalam perjalanan negara Indonesia.
Organisasi yang didirikan KH Hasyim Asy’ari itu kini telah berkembang pesat dengan jejaring
pesantren, sekolah, universitas, dan rumah sakit di seluruh wilayah Indonesia.
NU pun memiliki fungsi dan posisi yang cukup unik dalam panggung politik nasional
sehingga tidak mengherankan jika setiap pesta demokrasi, mulai pemilihan kepala daerah,
pemilihan legislatif, hingga pemilihan presiden, hampir semua kandidat meminta dukungan
kepada warga NU. Dalam perkembangannya, pertama kali NU terjun pada politik praktis saat
menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada 1952 dan kemudian mengikuti Pemilu
1955. Saat itu, NU cukup berhasil dengan meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante.
Banyak pihak yang berharap, Muktamar kali ini menghasilkan keputusan-keputusan
strategis sebagai panduan arah ke depan. Kalaupun terkait dengan agenda pemilihan ketua
umum, proses yang terjadi haruslah demokratis dengan tetap menjaga akhlakul karimah,
sebagaimana akhlak para pendiri, karena muktamar kali ini menyongsong satu abad NU, untuk
menggerakkan kemandirian NU. Oleh karena itu, Indonesia Leaders Talk kali ini akan
membahas “Muktamar NU dan Konstelasi Politik Nasional”

Narasumber:
(1) R. Siti Zuhro (Guru Besar, Peneliti Utama BRIN)
(2) Jazilul Fawaid (Wakil Ketua MPR RI – 2019 s.d. 2024)
(3) Mardani Ali Sera (Politisi PKS)
(4) Rocky Gerung (Pengamat)

ILT Edisi Ke-73: Muktamar NU dan Konstelasi Politik Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *